Kamis, 19 Mei 2016

ADB MAKAN DAN MINUM



















“Kelebihan Dan Kekurangan Materi Berbentuk Video, Animasi Dan Power Point”



PEMBELAJARAN JARAK JAUH
“Kelebihan Dan Kekurangan Materi Berbentuk Video, Animasi Dan Power Point”

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/ca/








Oleh :
Mirnawati
15.0211.031



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 ( STAIN ) PAREPARE
TAHUN AKADEMIK
2016







A.  Kelebihan Oxford Bridge
1.      Tampilan pertama/sampul menarik dan menarik dan menandakan site ini bertarap Internasional.
2.      Memiliki window penyambutan untuk memudahkan pengunjung.
3.      Dari tools menarik dan bersifat klasifikatif (petunjuk jelas).
4.      Penjelasan setiap unit course jelas dan terbuka tujuannya pun jelas contohnya akreditasi.
5.      Memiliki Have a look at what our students have to say about their experiences with us Akhona Amanda Mtalana (Financial Management) I had a great experience and I am hoping that this qualification will help me get a job. Otherwise Oxbridge Academy has been a great help.
B.   Kekurangan Oxford Bridge.
1.      Tidak menyediakan pilihan bahasa untuk site tersebut, mengapa pilihan bahasa tersebut penting karena ini membantu bagi siapa saja yang berminat. Sehingga dapat memahami maksud dan tujuan Oxbridge Academy. Meskipun language English syarat utama tetapi hal tersebut dapat menjadi motivasi bagi visitor untuk menguasai language English bagi yang berminat masuk Oxbridge Academy.
2.      Nothing communication between student staff and instruktur us communication as chating for sharing study.
3.      Tanpa peraturan course.
4.      Tanpa teknik penulisan KTI.
C.   Kelebihan Universitas Terbuka
1.      Memudahkan yang menguasai Bahasa Indonesia untuk pengunjungan.
2.      Fakultas sudah tercantum di home in site.
3.      Tersedia pascasarjana
4.      Navigation lengkap misalnya teknik penelitian karya tulis ilmiah.
5.      Terikat dengan peraturan.
D.  Kekurangan Universitas Terbuka
1.      Hanya tersedia vitual learning
2.      Penampilan home yang masih klasik
3.      Tidak adanya transpfaransi manajemen kampus seperti akreditasi dan lain sebagainya.
4.      Tidak memisahkan jenis pembelajaran misalnya (Virtual,E-Learning,Distance).



E.   Kelebihan dan Kekurangan video
a.      Kelebihan
1.      Dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat dari rangsangan lainnya.
2.      Dengan alat perekam pita video sejumlah besar penonton dapat memperoleh informasi dari ahli atau spesialis.
3.       Menghemat waktu dan rekaman dapat diputar berulang-ulang.
4.      Keras lemah suara dapat diatur dan disesuaikan bila akan disisipi komentar yang akan didengar.
5.      Guru bisa mengatur dimana dia akan menghentikan gerakan gambar tersebut jika diperlukan.
b.     Video
1.      Perhatian penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka jarang dipraktekkan.
2.      Sifat komunikasinya yang bersifat satu arah haruslah diimbangi dengan pencarian bentuk umpan balik yang lain.
3.      Kurang mampu menampilkan detail dari objek yang disajikan secara sempurna.
4.      Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks.

F.   Kelebihan dan Kekurangan power point
a. Kelebihan
1.      Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang bahan ajar yang tersaji.
2.      Pesan informasi secara visual mudah dipahami peserta didik.
3.      Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang disajikan.
4.      Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulang-uang
5.      Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik. (CD/ Disket/ Flashdisk), sehingga praktis untuk di bawa ke mana-mana.
6.      Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi, baik
animasi teks maupun animasi gambar atau foto.
b. Kekurangan
1.      Membutuhkan keahlian yang lebih untuk dapat membuat power point yang benar dan menarik.
2.      Dibutuhkan kesabaran dan tahap demi tahap untuk menyusun dan membuat power point sehingga membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
3.      Anak didik terkadang lebih memperhatikan animasi dalam power point dibandingkan materinya jadi jangan gunakan animasi yang tidak perlu.
H.    Kelemahan dan Kelebihan Media Animasi
a. Kelemahan
1.      Memerlukan kreatifitas dan ketrampilan yang cukup memadai untuk mendesain animasi yang dapat secara efektif digunakan sebagai media pembelajaran.
2.      Memerlukan software khusus untuk membukanya. Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memiliki kemampuan memahami siswanya, bukan memanjakan dengan berbagai animasi pembelajaran yang cukup jelas tanpa adanya usaha belajar dari mereka atau penyajian informasi yang terlalu banyak dalam satu frame cenderung akan sulit dicerna siswa.
b. Kelebihan
1.      Memudahkan guru untuk menyajikan informasi mengenai proses yang cukup kompleks dalam kehidupan.
2.      Memperkecil ukuran objek yang cukup besar.
3.      Memotivasi siswa untuk memperhatikan karena menghadirkan daya tarik bagi siswa terutama animasi yang dilengkapi dengan suara.
4.      Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual.



TAQWA DALAM AL-QUR'AN





TAQWA DALAM AL-QUR’AN





stain parepare










MAKALAH
Disusun dan akan dipersentasikan
pada seminar kelas A2


O l e h

KELOMPOK  III

MIRNAWATI
MASDIYAH NURIS
           NDAH WULANDARU



PROGRAM  PASCASARJANA (PPs)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PAREPARE
2015

KATA PENGANTAR
          Assalamu’alaikum Wr.Wb
Segala puji syukur kami panjatkan pada Allah SWT yg selalu memberi kita nikmat Islam dan Iman. Semoga hidayahNya juga tak henti-hentinya terlimpahkan terhadap saudara-saudara kita seiman seagama.
Shalawat serta Salam semoga senantiasa mengalir terhadap sang Penuntun dunia akhirat, sang Pembimbing bagi umat manusia yg diliputi gelapnya kebodohan, sang maha Guru yang tidak pernah sekalipun menyesatkan murid-muridnya, Orang tua yang penuh kesabaran dan ketelatenan, saudara yang penuh  belas kasihan, Nabi dan Rasul akhir zaman, Muhammad SAW.
Atas selesainya Karya Tulis Ilmiah ini yang, tentunya tak luput dari doa dan dukungan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, disadari maupun tidak disadari untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih, semoga Allah memberi balasan yang jauh lebih indah.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan ini tentunya terdapat banyak sekali kekurangan, untuk itu dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penulisan selanjutnya.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb
                                                                                               
                                                                                                Penulis


                                                                                                Kelompok III







DAFTAR ISI


Kata Pengantar........................................................................... i
Daftar Isi................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan.................................................................... 1
A.    Latar Belakang..................................................................................... 2
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 2
C.     Tujuan................................................................................................... 2
BAB II Pembahasan ................................................................... 3
A.    Definisi Taqwa dalam al-Qur’an.......................................................... 3
B.     Kedudukan Taqwa dalam Al-Qur’an........................................................10
C.     Ruang Lingkup Taqwa dalam Al-Qur’an ..................................................13
BAB III Penutup........................................................................ 26
A.     Kesimpulan........................................................................................... 26
Daftar pustaka....................................................................................... 27


I.     PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Perintah untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla senantiasa relevan dengan waktu dan tempat, kapanpun dan dimanapun. Mengingat, ragam fitnah yang mengancam hati seorang hamba, lingkungan yang tidak kondusif ataupun lantaran hati manusia yang rentan mengalami perubahan dan sebab-sebab lainnya yang berpotensi menimbulkan pengaruh negatif pada keimanan dan ketakwaan.
Urgensi berwasiat untuk takwa dapat disaksikan dari kenyataan bahwa Allah k menjadikannya wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Allah k berfirman: (an-Nisaa 4:131)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٢٠٠
Terjemahnya:
Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [an-Nisaa 4:131]

Ketakwaan juga merupakan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Pada haji wada’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Bertakwalah kepada Allah, kerjakan sholat lima waktu, berpuasalah di bulan (Ramadhan), tunaikan zakat harta kalian, taati para penguasa, niscaya kalian masuk syurga Allah. [HR. at-Tirmidzi].
Taqwa sangat penting dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan seorang muslim. Namun masih banyak yang belum mengetahui hakekatnya. Setiap jumat para khatib menyerukan taqwa dan para makmumpun mendengarnya berulang-ulang kali. Namun yang mereka dengar terkadang tidak difahami dengan benar dan pas.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disimpulkan rumusan masalah yang akan menjadi pembahasan penulis sebagai berikut;
1.      Bagaimana definisi Taqwa ?
2.      Bagaimana kedudukan Taqwa ?
3.      Bagaimana Ruang Lingkup taqwa ?
C.   Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka penulis dapat menyimpulkan tujuan penulisan yang akan mengarahkan penulis dalam menguraikan pembahasan makalah ini secara tertulis sebagai berikut;
1.      Untuk mengetahui definisi Taqwa ?
2.      Untuk mengetahui kedudukan Taqwa ?
3.      Untuk mengetahui Ruang Lingkup taqwa ?

















II.           PEMBAHASAN
  1. Definisi Taqwa
Taqwa berasal dari kata waqa, yaqi dan wiqayah yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi. Maka taqwa dapat diartikan sebagai sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengalaman ajaran agama islam. Taqwa secara bahasa berarti penjagaan/ perlindungan yang membentengi manusia dari hal-hal yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, orang yang bertaqwa adalah orang yang takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya kerena takut terjerumus ke dalam perbuatan dosa.
Taqwa adalah sikap mental seseorang yang selalu ingat dan waspada terhadap sesuatu dalam rangka memelihara dirinya dari noda dan dosa, selalu berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, pantang berbuat salah dan melakukan kejahatan pada orang lain, diri sendiri dan lingkungannya.
Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang.
Dari berbagai makna yang terkandung dalam taqwa, kedudukannya sangat penting dalam agama islam dan kehidupan manusia karena taqwa adalah pokok dan ukuran dari segala pekerjaan seorang muslim.
Adapun pendapat dari Abdullah Ibnu Abbas ra. menerangkan bahwa orang yang bertakwa itu ialah : 
·         Orang yang selalu berhati-hati dalam ucapan dan perbuatannya agar tidak mendapatkan suatu murka dan siksa Allah juga meninggalkan dorongan hawa nafsu.
·         Orang yang selalu mengharapkan suatu rahmat dari Allah dengan jalan meyakini dan juga melaksanakan semua ajaran yang telah diturunkan Allah. 
Agar supaya manusia itu bertakwa maka akhirat diciptakan sedangkan supaya manusia itu menerima cobaan maka diciptakan dunia, itulah pendapat dari Al-Kattani. Seseorang dapatlah dikatakan sempurna takwanya jika orang tersebut dapat menjaga diri dari segala perbuatan dosa meskipun seberat biji sawi atau sekecil atom sekalipun, dan meninggalkan sesuatu yang tidak halal sebab takut akan tergelincir kepada hal-hal yang  dimurkai allah dan dosa, maka dengan demikian akan terbentuk suatu benteng pengingat kokoh sekali di antara dirinya dengan sesuatu yang berakibat dosa dan perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT., itulah pengertian takwa menurut pendapat dari Abu Darda. 
Menurut pendapat Musa bin A'yun menerangkan bahwa bertakwa berarti membersihkan diri dari bermacam-macam subhat, sebab takut akan jatuh ke dalam hal yang sama sehingga dari beberapa pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan mengenai ciri-ciri dari orang yang bertakwa antara lain adalah : kecuali tuntunan Allah, maka segala sesuatu haruslah ditinggalkan. Segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT., maka haruslah ditinggalkan.  
Menentang hawa nafsu serta meninggalkan segala hasrat jiwa.  
Melaksanakan serta memelihara tata cara kehidupan menurut syariat Islam di dalam segala ucapan juga perbuatan haruslah mengikuti dan mencontoh tuntunan dari Rasulullah saw.






Ada beberapa arti mengenai kata "Takwa" yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an, di antaranya adalah sebagai berikut : 
Takwa mempunyai makna "Ketaatan dan ibadah", sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran (3 : 102) :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Takwa berarti "Bersih hati dari dosa", firman Allah SWT dalam surat An-Nuur (24 : 52) :
 




Artinya : Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Dari ketiga dalil tersebut di atas maka yang dimaksudkan oleh tokoh-tokoh Shufi adalah yang terakhir, sehingga mereka mengambil sebuah kesimpulan bahwa Takwa itu adalah terpeliharanya hati dari berbagai dosa, yang memungkinkan akan terjadi karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkannya, maka dengan demikian manusia akan terpelihara dari segala kejahatan. 
Kecuali hanya kepada Allah SWT., maka kepada segala apapun, seorang hamba tidak akan takut, itulah yang dimaksud dengan takwa menurut Nashr Abadzi. Di samping itu juga Nashr menerangkan satu hal lagi yaitu : "Barangsiapa yang selalu bertakwa, maka ia akan merasa keberatan sekali untuk meninggalkan akhirat" sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
 




Artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
"Barangsiapa yang selalu menginginkan agar takwanya benar, maka dia harus meninggalkan semua perbuatan dosa". (Menurut pendapat Sahal). 
Allah akan memudahkan hatinya untuk berpaling dari kemewahan dunia, barangsiapa yang mampu untuk merealisasikan takwa, menurut sebagian dari para Ulama'. 
Takwa menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjauhkan! diri dari Allah SWT., sedangkan menurut dari Dzun Nun yang dimaksud dengan takwa ialah: orang yang tidak mengotori jiwa secara lahir dengan suatu hal-hal yang bertentangan dan tidak mengotori jiwa batin dengan interaksi sosial di dalam kondisi demikian, seseorang itu akan selalu kontak dengan Allah SWT. dan dapat berkomunikasi dengan Allah. 
Bertakwa itu dapat dijadikan standar apabila telah memenuhi dalam tiga hal, menurut pendapat seorang laki-laki, antara lain: Niat yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperolehnya, Ridha yang baik dalam hati yang telah diperoleh, Sabar dalam hal yang "baik dalam hal yang telah lewat.
Telah dituturkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. bahwa sebaik-baik orang di dunia ini adalah orang yang dermawan dan juga sebaik-baik orang di akhirat nanti adalah orang yang takwa. 
Adapun dalil-dalil yang menerangkan dan juga memperjelas mengenai Takwa itu adalah antara lain berdasarkan hadits-hadits Nabi :
Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, adalah: "Aku berpesan kepadamu dengan takwa kepada Allah dalam segala urusanmu baik yang tersembunyi ataupun yang terang-terangan".
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad juga, artinya : "Aku berpesan kepadamu untuk takwa kepada Allah, karena takwa itu pokok pangkal segala sesuatu". Hadits riwayat Tirmidzi, artinya adalah : "Takwalah kepada Allah di dalam segala sesuatu yang kamu ketahui", 
Di dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Muslim, yakni artinya adalah : "Ya Allah!. Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu bimbingan, takwa, perlindungan, dari perbuatan haram, dan kecukupan". hadits yang telah diriwayatkan oleh Thabrani, artinya : "Wajib atas kamu takwa kepada Allah, sesungguhnya takwa itu mengumpulkan setiap kebaikan dan wajib atasmu berjihad di jalan Allah, karena sesungguhnya jihad ke jalan Allah kependetaan dalam Islam. Wajib atas kamu ingat kepada Allah dan membaca kitab-Nya, maka sesungguhnya Dia itu cahaya bagimu di bumi dan ingatan untuk kamu di langit. Dan sembunyikanlah lidahmu kecuali dalam kebaikan, karena sesungguhnya dengan demikian itulah kamu mengalahkan setan". hadits riwayat Ahmad yang artinya adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya orang yang paling utama kepada-Ku adalah orang-orang yang takwa, siapa pun mereka, dan di mana pun mereka berada".

MAKNA TAQWA MENURUT PARA AHLI
Menurut Murtadha Muthahhari, di dalam pengartian atau terjemahan-terjemahan bahasa Persia, jika kata takwa itu digunakan dalam bentuk isim, sebagaimana kata taqwa dan atau muttaqin, maka diartikan dengan arti "menjauhi." Contohnya, ungkapan hudan li al-muttaqin diartikan dengan "petunjuk bagi orang-orang yang menjauhi (larangan)." Namun, bila kata ini digunakan dalam bentuk fi'il, terutama dalam bentuk fi'il amr yang muta'alliq-nya disebutkan, maka diartikan dengan "takut." Misalnya, ungkapan ittaqi Allah atau ittaqu al-nar diartikan menjadi "takutlah kepada Allah" atau "takutlah kepada neraka" Di dalam bahasa Indoensia, kata takwa dalam bentuk fi'il amr juga diartikan dengan "takut." Namun, dalam Al-Qur'an dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama, ketika kata takwa dalam bentuk fi'il amr itu dikaitkan denganzharaf zaman, maka ada yang diartikan dengan "takut" dan ada yang diartikan dengan "penjagaan diri." Umpamanya yang diartikan dengan "takut" adalah ayat: "wattaqu yawman la tajzi nafsun 'an nafsin syay'a" (dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun) (QS 2: 123). Adapun contoh yang diartikan dengan "penjagaan diri" atau "pemeliharaan diri" adalah ayat: "Wattaqu yawman la tajzi nafsun 'an nafsin syay'a" (dan jagalah dirimu dari azab hari kiamat, yang pada hari itu seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun) (QS 2: 48) dan ayat: "wattaqu yawman turja'una fihi ila Allah" (dan peliharalah dirimu dari—azab yang terjadi pada—hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah) (QS 2: 281).[1]
Definisis atau pengertian takwa menurut Muthahhari dan Rahman itu sejalan dengan pandangan Muhammad Abduh. Menurut Abduh, akar kata taqwa adalah waqa yaqi wiqayah yang berarti jauh atau menjauhi kesusahan (kemadharatan) atau menolak kesusahan. Kemudian, Abduh memberikan makna kata takwa dalam bentuk amr-nya (ittaqi) yang dinisbahkan kepada kata Allah (ittaqi Allahi) dengan "takut kepada azab dan siksa-Nya." Bagi Abduh, penyandaran kata takwa kepada Allah ini adalah untuk menunjukkan betapa besar azab dan siksa-Nya, yang kalau tidak demikian maka manusia tidak akan takut kepada Allah, tidak akan mengakui kekuasaan-Nya dan tidak akan tunduk kepada kehendak-Nya. Dari sini Abduh mendefinisikan orang yang bertakwa sebagai "orang yang menjaga dirinya dari siksa" (man yahma nafsahu min al-'iqab) [2]
Pendefinisian Abduh tentang orang yang bertakwa dengan "orang yang menjaga dirinya dari azab dan siksa-Nya" itu menunjukkan bahwa konsep takwa, sebagaimana dikatakan Toshihiko Izutsu, berkaitan erat dengan visi eskatologis .[3] Dengan demikian, bila kata takwa ini diartikan dengan takut, maka takut yang tidak biasa, tapi takut yang bersifat eskatologis, yakni takut akan azab dan siksa Allah di akhirat nanti. (Menurut Izutsu, takwa tidak bias diartikan dengan "takut yang biasa," sebab untuk "takut yang biasa" ini di dalam al-Qur'an terdapat kata tersendiri yang lebih tepat, yaitu kata khasyyah dan khawf.[4] Namun, Abduh tidak berkesimpulan semacam ini. Artinya, Abduh tidak memandang takwa itu sebagai ketakutan yang bersifat eskatologis belaka, melainkan bersifat duniawi pula sehingga bersifat duniawi ukhrawi atau dunia akhirat. Dengan demikian, orang yang bertakwa, dalam pandangan Abduh, tidak hanya menjaga diri dari azab dan siksa-Nya di akhirat nanti, tetapi juga di dunia ini.[5]
Oleh karena itulah orang yang bertakwa berarti orang yang memiliki rasa tanggung jawab dunia akhirat, dan sebab rasa tanggung jawabnya inilah orang yang bertakwa, sebagaimana dikatakan Rahman, disebut sebagai makhluk yang bermoral. Dalam konteks inilah Rahman memandang takwa sebagai konsep sentral moralitas bagi manusia,[6] meski bukan sebagai konsep moralitas yang bersifat positif, melainkan yang bersifat negatif. Artinya, karena takwa itu berarti menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang akan mengakibatkan tidak baik pula kepadanya, maka takwa itu merupakan moralitas yang bersifat negatif atau, dalam istilah Mustansir Mir, merupakan kebajikan yang bersifat negatif (negative virtue). (Menurut Mustansir Mir, karena takwa itu berarti menahan diri dari tindakan-tindakan yang tidak baik dan mengekang diri dari ketamakan-ketamakan diri, maka takwa itu merupakan sebuah kebajikan negatif, negative virtue. Namun, Mir pun mengatakan bahwa di dalam al-Qur'an kebajikan negatif (takwa) ini sering disebut bersamaan dengan kebajikan yang bersifat posistif, positive virtue, semisal, "Orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik" (QS 7: 35; 4: 128, 129; 5: 93; 16: 128). Kalimat "berbuat baaik" di sini dipandang Mir sebagai kebajikan positif. Mustansir Mir, Dictionary of Qur'anic Terms and Concepts, USA: Garland Reference Library of the Humanities, 1987, h. 157).
Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa takwa itu tidak diwujudkan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, tetapi justeru dengan cara sebaliknya, yaitu dengan cara menjauhi larangan-larangan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Atau, dalam istilah Abduh, "dengan cara menjauhi apa yang dilarang-Nya dan mengikuti apa yang diperintah-Nya" (bi 'jtinabi ma nuhiya wattiba'i ma umira).[7]
B.   Kedudukan Taqwa
1.    Wasiat seluruh Nabi
Q.S An-Nisaa (4 : 131)
http://www.surah.my/images/s004/a131.png
Artinya : Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.




Q.S Asy-Syu’ara (26 : 10-11)
http://www.surah.my/images/s026/a010.png
http://www.surah.my/images/s026/a011.png
 




Terjemahnya:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah kaum yang zalim itu, (10) (yaitu) kaum Fir'aun. “Mengapa mereka tidak bertakwa?" (11)
http://www.surah.my/images/s026/a124.pnghttp://www.surah.my/images/s026/a123.pngQ.S Asy-Syu’ara (26 : 123-124)


Terjemahnya:
Kaum 'Aad telah mendustakan para rasul. (123) Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?” (124)
http://www.surah.my/images/s037/a123.pnghttp://www.surah.my/images/s037/a124.pngQ.S Ash-Shaffat (37 : 123-124)


Terjemahnya:
Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (123) (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu tidak bertakwa?” (124)
2.    Taqwa adalah pakaian yang paling baik
Q.S Al-A’raf (7 : 26)
http://www.surah.my/images/s007/a026.png
Terjemahnya:
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
3.    Taqwa adalah sebaik-baiknya bekal
Q.S Al-Baqarah (2 : 197)
http://www.surah.my/images/s002/a197.png
Terjemahnya:
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi [122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats [123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa [124] dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
  1. Taqwa adalah tolak ukur kedudukan manusia disisi Allah
Q.S Al-Hujuraat (49 : 13)
http://www.surah.my/images/s049/a013.png
Terjemahnya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
  1. Taqwa mendatangkan keselamatan
http://www.surah.my/images/s027/a053.pngQ.S An-Naml (27 : 53)

Terjemahnya:
Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.
  1. Yang diterima dari amal adalah karena ketaqwaannya
Q.S Al-Hajj (22 : 22)
http://www.surah.my/images/s022/a022.png
Terjemahnya:
Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini".
C.   Ruang Lingkup Taqwa
  1. Hubungan Manusia dengan Allah SWT
Seorang yang bertaqwa (muttaqin) adalah seorang yang menghambakan dirinya kepada Allah SWT dan selalu menjaga hubungan dengannya setiap saat sehingga kita dapat menghindari dari kejahatan dan kemunkaran serta membuatnya konsisten terhadap aturan-aturan Allah.
Memelihara hubungan dengan Allah dimulai dengan melaksanakan ibadah secara sunguh-sungguh dan ikhlas seperti mendirikan shalat dengan khusyuk sehingga dapat memberikan warna dalam kehidupan kita, melaksanakan puasa dengan ikhlas dapat melahirkan kesabaran dan pengendalian diri, menunaikan zakat dapat mendatangkan sikap peduli dan menjauhkan kita dari ketamakan.
Dan hati yang dapat mendatangkan sikap persamaan, menjauhkan dari takabur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Segala perintah-perintah Allah tersebut ditetapkannya bukan untuk kepentingan Allah sendiri melainkan merupakan untuk keselamatan manusia.
Ketaqwaan kepada Allah dapat dilakukan dengan cara beriman kepada Allah menurut cara-cara yang diajarkan-Nya melalui wahyu yang sengaja diturunkan-Nya untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup manusia, seperti yang terdapat dalam surat Ali-imran ayat 138 :
http://www.surah.my/images/s003/a138.png
Terjemahnya:
(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Manusia juga harus beribadah kepada Allah dengan menjalankan shalat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa selama sebulan penuh dalam setahun, melakukan ibadah haji sekali dalam seumur hidup, semua itu kita lakukan menurut ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Sebagai hamba Allah sudah sepatutnya kita bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya, bersabar dalam menerima segala cobaan yang diberikan oleh Allah serta memohon ampun atas segala dosa yang telah dilakukan.
  1. Hubungan Manusia dengan Hati Nurani dan Dirinya Sendiri
Selain kita harus bertaqwa kepada Allah dan berhubungan baik dengan sesama serta lingkungannya, manusia juga harus bisa menjaga hati nuraninya dengan baik seperti yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dengan sifatnya yang sabar, pemaaf, adil, ikhlas, berani, memegang amanah, mawas diri dll. Selain itu manusia juga harus bisa mengendalikan hawa nafsunya karena tak banyak diantara umat manusia yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya sehingga semasa hidupnya hanya menjadi budak nafsu belaka seperti yang tertulis dalam Al-quran Surat Yusuf ayat 53 :



http://www.surah.my/images/s012/a053.png
 



Terjemahnya:
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
Maka dari itu umat manusia harus bertaqwa kepada Allah dan diri sendiri agar mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut. Ketaqawaan terhadap diri sendiri dapat ditandai dengan ciri-ciri, antara lain :


a.       Sabar
b.      Tawakal
c.       Syukur
d.      Berani


Sebagai umat manusia kita harus bersikap sabar dalam menerima apa saja yang datang kepada dirinya, baik perintah, larangan maupun musibah. Sabar dalam menjalani segala perintah Allah karena dalam pelaksanaan perintah tersebut terdapat upaya untuk mengendalikan diri agar perintah itu bisa dilaksanakan dengan baik. Selain bersabar, manusia juga harus selalu berusaha dalam menjalankan segala sesuatu dan menyerahkan hasilnya kepada Allah (tawaqal) karena umat manusia hanya bisa berencana tetapi Allah yang menentukan, serta selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah dan berani dalam menghadapi resiko dari seemua perbuatan yang telah ditentukan.
  1. Hubungan Manusia dengan Manusia
Agama islam mempunyai konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan, kemasyarakatan, kebangasaan dll. Semua konsep tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran yang berhubungan dengan manusia dengan manusia (hablum minannas) atau disebut pula sebagai ajaran kemasyarakatan, manusia diciptakan oleh Allah terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka hidup berkelompok-kelompok, berbangsa-bangsa dan bernegara. Mereka saling membutuhkan satu sama lain sehingga manusia dirsebut sebagai makhluk sosial.
Maka tak ada tempatnya diantara mereka saling membanggakan dan menyombongkan diri., sebab kelebihan suatu kaum tidak terletak pada kekuatannya, harkat dan martabatnya, ataupun dari jenis kelaminnya karena bagaimanapun semua manusia sama derajatnya dimata allah, yang membedakannya adalah ketaqwaannya. Artinya orang yang paling bertaqwa adalah orang yang paling mulia disisi Allah swt.
Hubungan dengan allah menjadi dasar bagi hubungan sesama manusia. Hubungan antara manusia ini dapat dibina dan dipelihara antara lain dengan mengembangkan cara dan gaya hidupnya yang selaras dengan nilai dan norma agama, selain itu sikap taqwa juga tercemin dalam bentuk kesediaan untuk menolong orang lain, melindungi yang lemah dan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu orang yang bertaqwa akan menjadi motor penggerak, gotong royong dan kerja sama dalam segala bentuk kebaikan dan kebijakan.
http://www.surah.my/images/s002/a177.pngSurat Al-baqarah ayat 177 :










Terjemahnya:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Dijelaskan bahwa ciri-ciri orang bertaqwa ialah orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat dan kitab Allah. Aspek tersebut merupakan dasar keyakinan yang dimiliki orang yang bertaqwa dan dasar hubungan dengan Allah.
Selanjutnya Allan menggambarkan hubungan kemanusiaan, yaitu mengeluarkan harta dan orang-orang menepati janji. Dalam ayat ini Allah menggambarkan dengan jelas dan indah, bukan saja karena aspek tenggang rasa terhadap sesama manusia dijelaskan secara terurai, yaitu siapa saja yang mesti diberi tenggang rasa, tetapi juga mengeluarkan harta diposisikan antar aspek keimanan dan shalat.
  1. Hubungan Manusia dengan Lingkungan Hidup
Taqwa dapat di tampilkan dalam bentuk hubungan seseorang dengan lingkungan hidupnya. Manusia yang bertakwa adalah manusia yang memegang tugas kekhalifahannya di tengah alam, sebagai subjek yang bertanggung jawab menggelola dan memelihara lingkungannya. Sebagai penggelola, manusia akan memanfaatkan alam untuk kesejahteraan hidupnya didunia tanpa harus merusak lingkungan disekitar mereka. Alam dan segala petensi yang ada didalamnya telah diciptakan Allah untuk diolah dan dimanfaatkan menjadi barang jadi yang berguna bagi manusia.
Alam yang penuh dengan sumber daya ini mengharuskan manusia untuk bekerja keras menggunakan tenaga dan pikirannya sehingga dapat menghasilkan barang yang bermanfaat bagi manusia. Disamping itu, manusia bertindak pula sebagai penjaga dan pemelihara lingkungan alam. Menjaga lingkunan adalah memberikan perhatian dan kepedulian kepada lingkungan hidup dengan saling memberikan manfaat. Manusia memanfaatkan lingkungan untuk kesejahteraan hidupnya tanpa harus merusak dan merugikan lingkungan itu sendiri.
Orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya. Ia dapat mengelola lingkungan sehingga dapat bermanfaat dan juga memeliharanya agar tidak habis atau musnah. Fenomena kerusakan lingkungan sekarang ini menunjukan bahwa manusia jauh dari ketaqwaan. Mereka mengeksploitasi alam tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi pada lingkungan itu sendiri dimasa depan sehingga mala petaka membayangi kehidupan manusia. Contoh dari mala petaka itu adalah hutan yang dibabat habis oleh manusia mengakibatkan bencana banjir dan erosi tanah sehingga terjadi longsor yang dapat merugikan manusia.
Bagi orang yang bertaqwa, lingkungan alam adalah nikmat Allah yang harus disyukuri dengan cara memenfaatkan dan memelihara lingkungan tersebut dengan sebaik-baiknya. Disamping itu alam ini juga adalah amanat yang harus dipelihara dan dirawat dengan baik. Mensyukuri nikmat Allah dengan cara ini akan menambah kualitas nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Sebaliknya orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah akan diberi azab yang sangat menyedihkan. Azab Allah dalam kaitan ini adalah bencana alam akibat eksploitasi alam yang tanpa batas karena kerusakan manusia.





Ciri-ciri Orang yang Bertaqwa
Q.S Al-A’raf (7 : 96)
Terjemahnya:
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Ciri-ciri orang bertaqwa menurut Al-Qur’an
  1. http://www.surah.my/images/s002/a002.pngQ.S Al-Baqarah (2 : 2-5)

http://www.surah.my/images/s002/a003.png,http://www.surah.my/images/s002/a004.png,http://www.surah.my/images/s002/a005.png
 







Terjemahnya:
Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (2) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (3) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu , serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (4) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (5).
Surat al baqarah 2 - 5 :Al Kitab ini (Al Quran) adalah petunjuk buat orang yang bertaqwa, dengan ciri sebagai berikut:
  1. Beriman pada yang ghaib
  2. Mendirikan salat
  3. Menafkahkan sebagaian rezeki yang Allah kurniakan kepadanya
  4. Beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad saw) dan sebelum mu.
  5. Yakin kepada hari akhirat
Setiap manusia tak kira agama apapun memungkinkan untuk menjadi insan yang taqwa, Mendirikan salat misalnya, Dalam bahasa melayu "salat" disebutnya juga sembahyang.Setiap agama mengajarkan sembahyang, Hanya cara, metoda, waktu dan tempat yang berbeda-beda.
  1. http://www.surah.my/images/s002/a177.pngQ.S Al-Baqarah (2 : 177)







Terjemahnya:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Surat Al baqarah 177, Mereka itulah orang-orang yang benar  dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa dengan ciri-ciri sbb :
a.     Beriman kepada Allah (Tuhan Yang Maha Esa), hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
b.     Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (orang dalam perjalanan), orang yang meminta-minta.
c.      Membebaskan perbudakan
d.      Mendirikan salat
e.      Menunaikan zakat
f.      Memenuhi janji bila berjanji
g.     Bersabar dalam dalam kesengsaraan, penderitaan dan dalam waktu peperangan.
  1. http://www.surah.my/images/s003/a133.pngQ.S Ali Imran (3 : 133-135)


http://www.surah.my/images/s003/a134.png
http://www.surah.my/images/s003/a135.png
 




Terjemahnya:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (135)
Surat Ali 'Imran 133 - 135, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu :
1.      Orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada waktu lapang maupun sempit
2.      Orang-orang yang menahan amarahnya
3.      Orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain
4.      Dan (juga) orang-orang yang apabila berbuat keji atau zalim terhadap dirinya, mereka ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya.
5.      Dan Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu.






III.         PENUTUP
A.  Kesimpulan

1.       Taqwa adalah itu tidak diwujudkan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, tetapi justeru dengan cara sebaliknya, yaitu dengan cara menjauhi larangan-larangan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
2.      Kedudukan taqwa
a.       Wasiat seluruh Nabi
b.      Taqwa adalah pakaian yang paling baik
c.       Taqwa adalah sebaik-baiknya bekal
d.      Taqwa adalah tolak ukur kedudukan manusia disisi Allah
e.       Taqwa mendatangkan keselamatan
f.        Yang diterima dari amal adalah karena ketaqwaannya
3.      Ruang Lingkup Taqwa
a.       Hubungan Manusia dengan Allah SWT
b.      Hubungan Manusia dengan Hati Nurani dan Dirinya Sendiri
c.       Hubungan Manusia dengan Manusia
d.      Hubungan Manusia dengan Lingkungan Hidup












DAFTAR PUSTAKA

Husein, Mochtar. 2008. Hakikat Islam Sebuah Pengantar Meraih Islam Kaffah.
        Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mufid AR, Ahmad. 2008.  Tanya Jawab Aqidah Islamiah. Yogyakarta : Insan Madani.
file:///F:/agama/Makalah-Agama-Taqwa.html
Azra. Azumardi, Dr. Prof. Dkk, Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi
Umum: Jakarta. 2002
Cholid, M, Drs. M, M.Ag, dkk. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan
Tinggi, Bandung:STPDN Press, 2003




[1](Murtadha Muthahhari, Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, h. 13-14).
[2] (Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, Juz I, h. 124-5).
[3] Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concpts in the Qur'an, Montreal: McGill University Press, 1966, h. 195
[4] Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concpts in the Qur'an, h. 196
[5] Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, Juz I, h. 125).
[6] ( Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual, Bandung: Pustaka, 1995, h. 187
[7] Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, Juz I, h. 125).