TAFAKKUR
DALAM AL-QUR’AN

MAKALAH
Disusun dan akan dipersentasikan
pada seminar kelas A2
O l e h
KELOMPOK III
HASNAH
MIRNAWATI
NURHASMAN
PROGRAM
PASCASARJANA (PPs)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PAREPARE
2015
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu karakteristik penting yang harus
dimiliki oleh orang yang beriman kepada Allah adalah kemampuan melihat
tanda-tanda kekuasaan Allah melalui makhluk-Nya. Ia harus dapat melihat
kekuasaan dan kebesaran karya seni-Nya di setiap kelembutan dan kesempurnaan
makhluk-Nya,[1] seraya ia memuji
kebesaran-Nya. Allah menciptakan segala makhluk yang ada di alam semesta ini
adalah sebagai pengingat dan petunjuk akan kebesaran Allah, bukan sebagai
tontonan yang tidak ada faedahnya. Tidak ada satu makhluk ciptaan Allah yang
sia-sia.[2]
Makhluk satu dengan makhluk lainnya semuanya saling berkaitan satu sama lain yang
berfungsi untuk menjaga keteraturan system yang ada di alam semesta ini.
Memahami karakteristik ini tersebut dengan tafakkur.
Apabila seorang mukmin mampu melihat kebesaran dan kekuasaan Allah dalam setiap
makhluk dan ciptaan-Nya dalam artian mampu bertafakkur,
maka ia akan merasa selalu dekat dengan Allah.
Meluangkan waktu atau mengisi waktu untuk bertafakkur adalah salah satu acara yang
menarik bagi ahli hikmah dan ahli taqwa dalam menghadirkan kebesaran Allah di
hatinya.[3] Tafakkur di sini berarti merenungkan
kebesaran dan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengawasi serta menjaga
keteraturan system yang dibuat-Nya di alam semsta ini. Dengan tafakkur ia akan menemukan rahasia di
balik semua makhluk Allah dan selalu menumbuhkan kebesaran allah di dalam
hatinya.
Tafakkur merupakan komponen penting yang harus
dimiliki bagi setiap orang beriman,[4]
karena tafakkur merupakan cerminan seorang mukmin. Ia
dapat melihat segala kebaikan dan keburukan melaluinya. Demikian penjelasan
Al-Hasan.[5]
Dengan tafakkur maka seorang mukmin akan mengetahui hakikat
dan rahasia makhluk ciptaan-Nya atau suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya.
Ia juga akan mengetahui suatu kebaikan dan keburukan yang terkandung dalam
setiap perintah dan larangan-Nya. Tidak dikatakan seorang mukmin sejati yang
cerdas jika ia tidak berzikir dan bertafakkur
terhadap apa yang ada di alam
semesta ini, sebagaimana yang diungkapkan dalam (Q.S.Ali Imran ayat 190-191:
إِنَّ فِي
خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ
لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا
وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. 191.(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ayat di atas di samping sebagai anjuran bagi manusia untuk bertafakkur juga menunjukkan salah satu karakteristik
sorang mukmin yang harus dimiliki, yaitu selalu ingat kepada Allah dan bertafakkur terhadap ciptaan-Nya.
Seorang mukmin harus selalu ingat kepada Allah dalam keadaan dan kondisi apa
pun, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring sekalipun.[6]
Selain itu, ayat di atas juga bias membawa pembaca terhadap kesadaran ekologis,
karena seorang mukmin juga dituntut harus peka terhadap keadaan di sekitarnya.
Seorang mukmin harus tau bahwasanya terciptanya seluruh makhluk yang ada di
langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam mempunyai keteraturan system
yang luar biasa. Tiada system yang luar biasa hebatnya dibandingkan system yang
berjalan di alam semesta ini. Semua ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah
yang harus direnungkan oleh setiap mukmin agar hatinya selalu tumbuh kebesaran penciptanya
yaitu Allah.
Banyak anjuran yang mendorong agar manusia melakukan tafakkur, baik anjuran yang berasal dari
Al-Qur’an maupun yang berasal dari Hadis. Dalam Al-Qur’an anjuran untuk
melakukan tafakkur anatara lain
dengan lain dengan redaksi kalimat la’allakum
tatafakkaru>, afala> tatafakkaru>n, awalan yatafakkaru>, dan
masih banyak lainnya. Sebagai contoh dalam Al-Qur’an surat Ar-rum ayat 8
disebutkan:
أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ
مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨
Terjemahnya:
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya
melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan
sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan
dengan Tuhannya.
Ayat di atas mengadung anjuran untuk mentafakkuri proses penciptaan manusia,
pernciptaan langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di dalamnya. Karena
sesungguhnya Allah menciptakan semua itu mempunyai maksud dan tujuan yang benar
bagi mereka yang mau menatafakkurinya. Dalam pandangan Quraish Shihab ayat di
atas adalah bentuk kecaman Allah terhadap kaum musyrikin yang mata dan kalbu
mereka sudah rusak dan lemah sehingga mereka tidak mampu melihat bukti-bukti
kebesaran Allah yang terbentang luas di alam raya ini.[7]
Jika mereka mampu menggunakan mata dan kalbunya dengan baik untuk memahami dari
mana mereka dilahirkan, bagaimana mereka tumbuh menjadi besar dan tua kemudian
mati, kemana mereka kembali setelah mati, serta merenungkan alam raya ini maka
itu pasti mengantarkan kepada mereka kepada keyakinan tentang keesaan Allah
serta keniscayaan hari kebangkitan.[8]
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ
وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ
إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤
Terjemahnya:
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan
kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Q.S.An-Nahl:44).
Anjuran yang menyatakan pentingnya bertafakkur selain Al-Qur’an juga
dosebutkan dalam hadis Nabi yaitu;
تفكر وافى الخلق ولا تفكروافى الخالق فانكم لاتقدون
قدره
Artinya:
Merenunglah tentang
ciptaan dan jangan kau merenung tentang pencipta, karena kalian tidak akan
mampu untuk mencapainya.[9]
Hadis di atas merupakan salah satu bentuk
anjuran bertafakkur yang disampaikan
oleh Rasulullah. Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa hendaknya bertafakkur itu hanya pada cakupan makhluk ciptaan Allah bukan pada penciptanya.
Ada sebuah riwayat yang lain yang menyatakan, “berfikirlah pada tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan janganlah kamu
berfikir tentang (zat) Allah.”[10] Dari berbagai anjuran bertafakkur baik dari Al-Qur’an maupun Hadis, hal tersebut yang
menjadikan ahli hikmah dan para sufi terkadang meluangkan waktunya hanya untuk bertafakkur mengenai ciptaan Allah.
Mereka paham dengan bertafakkur mereka
akan mendapatkan ketenangan, mengetahui kebaikan dan keburukan dan mengetahui
rahasia di balik makhluk ciptaan Allah.
Di era 21 ini tidak banyak orang yang mampu
menggunakan akal dan hatinya untuk bertafakkur
. hal itu karena akal dan hati mereka tertutupi dengan gemerlapnya
keindahan dunia yang mengakibatkan mereka lupa akan Tuhannya. Mereka
menggunakan kekuatan akalnya hanya untuk mencari cara agar apa yang mereka
inginkan selalu tercapai. Mereka menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan
apa yang diinginkannya, baik berupa pangkat jabatan, kekayaan yang melimpah
istri yang cantik dan lain sebagainya yang bersifat duniawi tanpa memperhatikan
risiko yang akan terjadi. Mereka tidak memperhatikan keteraturan system yang
ada di jagad alam raya ini. Sehingga di era ini banyak bencana alam yang
terjadi di muka bumi ini akibat ilah mereka sendiri yang tidak mau
memperhatikan (melakukan tafakkur) apa
yang terjadi di alam semesta ini.
Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang
paling mulia di muka bumi ini, karena Dia telah menganugerahi manusia dengan
akal.[11]
Akal merupakan potensi yang paling unggul yang diberikan Allah kepada manusia
agar manusia bias memahami sesuatu yang ada dalam kehidupan ini.[12]
Manusia bias memiliki derajat yang paling mulia di disisi Allah dan di antara
makhluk lainnya apabila ia mampu menggunakan potensi akalnya dan menghubungkan
dengan hatinya untuk melihat, memahami dan selalu ingat akan kebesaran Allah
yang terbentang luas di alam raya .
Dari latar belakang yang telah dipaparkan di
atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang tafakkur dalam Al-Qur’an. Penulis ingin mengetahui lebih lanjut
bagaimanakah konsep tafakkur yang
sebenarnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas,
penulis membuat rumusan masalah sebagai pokok pembahasan yang paling utama
dalam penyusunan makalah sebagai berikut;
1. Bagaimana Konsep Berpikir dalam al-Quran ?
2. Bagaimana Penggunaan Term Berpikir dalam
al-Quran ?
3. Bagaimana Faktor Penghambat Berpikir
Mengalami Stagnasi ?
4. Bagaimana Tafakkur dalam al-Quran ?
5. Bagaimana Objek Tafakkur dalam al-Quran ?
C. Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat
disimpulkan tujuan pembahasan yang akan menjadi subtansi pembahasan dalam
penulisan makalah ini sebagai berikut;
1. Untuk Mengetahui Konsep Berpikir dalam al-Quran.
2. Untuk Mengetahui Penggunaan Term Berpikir
dalam al-Quran.
3. Untuk Mengetahui Faktor Penghambat Berpikir
Mengalami Stagnasi.
4. Untuk Mengetahui Tafakkur dalam al-Quran.
5. Untuk Mengetahui Objek Tafakkur dalam
al-Quran.
II.
PEMBAHASAN
A. Konsep
Berfikir Dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an
telah menyeru kepada seluruh manusia untuk berpikir, “Sesungguhnya aku
hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap
Allah swt (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu
pikirkan (tentang Muhammad).” (Qs. Saba’ [34]: 46).
Dalam ayat
lain, Allah swt swt juga menyuruh manusia berpikir tentang kosmologi,
bentuknya, penciptaannya, dan pengaturan peredarannya. Allah swt juga menyuruh
manusia mempelajari sunatullah dalam segala bentuk ilmu pengetahuan. Allah swt
swt berfirman, “Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka
perhatikanlah bagaimana Allah swt menciptakan (manusia) dari permulaannya’.”(Qs.
al-‘Ankabūt [29]: 20).
“Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta
ialah hati yang ada di dalam dada.”(Qs. al-Ḥajj [22]: 46). “Dan apakah
mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang
diciptakan Allah swt?”(Qs. al-A’rāf [7]: 185).[2] Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang
mengajak manusia memikirkan apa yang ada dalam alam semesta ini.
Ayat-ayat tersebut merupakan
sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis, dan mengkaji secara
ilmiah tentang semua makhluk, dan tentang semua fenomena kosmologi. Al-Qur’an
tidak hanya menyuruh manusia untuk berpikir dan mengkaji secara ilmiah tentang
fenomena alami, tetapi juga untuk berpikir tentang rahasia pembentukan dirinya
secara biologis dan kejiwaan. Dengan kata lain, al-Qur’an mengajak manusia
untuk sering mengkaji ilmu biologi, psikologi, kedokteran, dan kejiwaan.[13]
Al-Qur’an
tidak menuntut untuk menerima begitu saja apa yang disampaikan kepada manusia.
Tetapi memaparkan masalah dan membuktikannya dengan argumentasi-argumentasi,
bahkan menguraikan pandangan-pandangan penentangnya seraya membuktikan
kekeliruannya. Ada masalah keagamaan yang tidak dapat diyakini kecuali melalui
pembuktian logika, dan ada juga ajaran-ajaran agama yang sukar dipahami dengan
akal namun tidak bertentangan dengan akal. Penggunaan akal tanpa diiringi
dengan keimanan pada agama dan kepercayaan pada keterbatasan akal akan membuat
manusia mempertuhankan akal dan terjerumus dalam jurang kesalahan. Akal dapat
berargumentasi tentang ada dan tiadanya Tuhan.[14]
Rasio yang
dimaksud di sini bukanlah apa yang tersusun dalam akal manusia atau mantik
secara fitrah yang mempola dasar setiap pemahaman. Namun yang dimaksud rasio di
sini adalah sesuatu yang dapat mengantarkan rasio manusia dari beragam ilmu dan
pengetahuan sebagai produk dari sebuah pengamatan dan penelitian. Ilmu
pengetahuan ini mempunyai kemungkinan untuk dijadikan sebagai dasar memahami
maksud Allah swt dalam nas-nas wahyu.
Dalam kitab
al-Khawāṭir (mind) karya Syaikh Mutawallī Sya’rawī disebutkan bahwa pikiran adalah
keistimewaan yang dipakai manusia untuk memilih sesuatu dari beberapa
alternatif dan menentukan pilihan pada hal yang menguntungkan masa depan diri
dan keluarganya. Dalam buku What People Think Will Be Acquired, James
Allen menulis bahwa adanya pemikiran pada manusia membuatnya mampu menentukan
pilihan dalam hidup. Dalam ilmu psikologi sosial, para ilmuwan sepakat bahwa
kemampuan berpikir yang ada pada manusia telah menjadikannya sebagai makhluk
yang paling spesial. Kemampuan itu sebagai pembeda antara manusia dengan
binatang, tumbuhan, dan benda mati.
B. Konteks
Penggunaan Term Berfikir Dalam Al-Qur’an
Salah satu kelebihan penting yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk
Allah swt lain seperti tumbuhan dan hewan adalah manusia lebih dapat
memaksimalkan penggunakan otaknya untuk berpikir. Dan satu-satunya alat manusia
untuk berpikir adalah akal yang dalam Bahasa Arab adalah ‘aql. Ibnu
Khaldun (1332-1406) ahli Filsafat Sejarah, Bapak Sosiologi dalam karya utamanya
“Muqaddimah” mengemukakan tentang akal, sebagai berikut:
“Kemudian ketahuilah, bahwa Allah swt
membedakan manusia dari hewan dengan kesanggupan berpikir, sumber dari segala
kesempurnaan, dan puncak dari segala kemuliaan dan ketinggian di atas makhluk
lainnya. Sebabnya ialah karena pengertian, yaitu kesadaran dalam diri tentang
kejadian di luar dirinya, hanyalah ada pada hewan saja, tidak terdapat pada
lain-lain barang (yang makhluk) sebab hewan menyadari akan apa yang ada di luar
dirinya dengan perantaraan panca inderanya (pendengaran, penglihatan, bau,
perasa lidah, sentuh) yang diberikan Allah swt kepadanya. Sekarang manusia
memahami ini dengan kekuatan memahami apa yang ada dibalik panca inderanya.
Pikiran bekerja dengan perantaraan kekuatan yang ada di tengah-tengah otak yang
memberi kesanggupan kepadanya menangkap bayangan-bayangan benda yang biasa
diterima oleh panca indra dan kemudian mengembalikan benda iitu dalam
ingatannya sambil meringkas lagi bayangan benda-benda itu. Refleksi itu terdiri
dari penjamahan bayangan-bayangan ini (di balik perasaan) oleh akal, yang
memecah atau menghimpun bayangan-bayangan itu (untuk membentuk
bayangan-bayangan lain).[15]
Islam
memandang berpikir itu sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Sebab dengan berpikir, manusia menyadari posisinya sebagai hamba dan memahami
fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi. Tugasnya hanyalah menghambakan
diri kepada Allah swt dengan beribadah. Dengan berpikir juga, manusia
mengetahui betapa kuasanya Allah swt menciptakan alam semesta dengan kekuatan
yang Maha Dahsyat, dan dirinya sebagai manusia sangat kecil dan tidak berarti
apa-apa di hadapan Allah swt Yang Maha Berkuasa.
Al-Qur’an
berkali-kali merangsang manusia, khususnya orang beriman, agar banyak
memikirkan dirinya, lingkungan sekitarnya, dan alam semesta. Karena dengan
berpikir itu, manusia akan mampu mengenal kebenaran, yang kemudian untuk
diimani dan dipegang teguh dalam kehidupan. Allah swt berfirman, “Hanyalah
orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs.
Ar-Ra‘d [13]: 19).
Islam memandang
kaitan antara keilmuan dengan ketakwaan itu sangat erat. Dalam arti, semakin
dalam ilmu seseorang akan semakin takut kepada Allah swt SWT. Disebutkan di
dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah swt SWT
adalah orang-orang yang berilmu dari hamba-Nya.” (Qs. Fāṭir [35]: 28).
Menurut
kacamata Al-Qur’an, orang-orang yang mendurhakai Allah swt itu karena
disebabkan “cacat intelektual”. Betapa pun mereka berpikir dan bahkan sebagian
mereka ada yang turut mempunyai andil untuk mengembangkan peradaban manusia,
namun selama proses berpikir tidak mengantarkan mereka ke derajat “bertakwa”,
maka selama itu pula mereka tetap berada dalam kategori orang-orang yang “tidak
berpikir”.[16]
C.
Faktor penghambat berpikir
mengalami stagnasi
Al-Qur’an telah
menyebutkan beberapa faktor terpenting yang menjadi hambatan proses berpikir
dan menyebabkan kondisi stagnasi yang akhirnya menghalangi pengungkapan
kebenaran. [17]
Yang pertama adalah
berpegang pada pemikiran lampau. Manusia biasanya cenderung berpegang teguh
denegan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Pengikisan terhadap
adat-istiadat dan pemikiran-pemikiran lampau menjadi sebauah tugas yang
membutuhkan kesungguhan ekstra. Al-Qur’an menggambarkan sandaran kebanyakan
manusia sepanjang sejarah pada akidah nenek moyang mereka lantaran
ketidakmampuan mereka untuk melihat akidah yang diserukan oleh beberapa Nabi
dan Rasul dengan pemikiran yang independen dari batasan ibadah, adat, dan
pemikiran masa lampau. Dengan kata lain, bersandar pada pemikiran, kebiasaan,
dan adat nenek-moyang, merupakan faktor paling dominan dalam membentuk stagnasi
berpikir.
Yang kedua, tidak
memiliki keterangan yang memadai. Hal ini membuat manusia sulit untuk berpikir
jernih dalam suatu objek tertentu. Hasil pemikiran tidak akan dapat
dipertanggungjawabkan bila tidak ada landasan kuat yang mendukung kebenaran
hasil pemikiran tersebut. Al-Qur’an telah menunjukkan betapa pentingnya
pengetahuan-pengetahuan tentang objek masalah dalam mencari kebenaran
yang hakiki. Al-Qur’an melarang kita mengemukakan pendapat yang tidak dilandasi
oleh ilmu pengetahuan, sebagaimana al-Qur’an melarang kita mendengarkan
perkataan dan pendapat yang tidak didasari oleh ilmu dan kejelasan dalil (Qs.
al-Isrā’ [17]: 36).
Yang ketiga adalah
hawa nafsu dan kecenderungan jiwa. Ilmu jiwa telah membuktikan tentang adanya
kesalahan dalam berpikir akibat mengikuti hawa nafsu dan terpengaruh dengan
kecenderungan. Oleh karena itu, seorang pemikir harus selalu berusaha berada
pada jalan kebenaran dan membebaskan dirinya dari pengaruh emosi dan fanatisme
yang membelenggu pola pikirnya dalam mencari kebenaran. Keadaan emosi kita
dapat mempengaruhi pemikiran dan cenderung pada pemihakan serta terjerumus
dalam kekeliruan hukum yang dikeluarkan. Al-Qur’an telah menunjukkan efek
negatif dari hawa nafsu, yaitu penyimpangan pemikiran yang menyesatkan manusia
dan melemahkan untuk membedakan antara hak dengan batil, kebaikan dengan
keburukan, serta petunjuk dengan kesesatan (Qs. al-Qaṣaṣ [28]: 135).
D.
Tafakkur dalam Al-Qur’an
Tafakkur merupakan komponen penting yang harus
dimiliki bagi setiap orang beriman,[18]
karena tafakkur merupakan cerminan seorang mukmin. Ia
dapat melihat segala kebaikan dan keburukan melaluinya. Demikian penjelasan
Al-Hasan.[19] Dengan tafakkur maka seorang mukmin akan mengetahui hakikat
dan rahasia makhluk ciptaan-Nya atau suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya.
Ia juga akan mengetahui suatu kebaikan dan keburukan yang terkandung dalam
setiap perintah dan larangan-Nya. Tidak dikatakan seorang mukmin sejati yang
cerdas jika ia tidak berzikir dan bertafakkur
terhadap apa yang ada di alam
semesta ini, sebagaimana yang diungkapkan dalam (Q.S.Ali Imran ayat 190-191:
إِنَّ فِي
خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ
لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا
وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. 191.(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ayat di atas di samping sebagai anjuran bagi manusia untuk bertafakkur juga menunjukkan salah satu karakteristik
sorang mukmin yang harus dimiliki, yaitu selalu ingat kepada Allah dan bertafakkur terhadap ciptaan-Nya.
Seorang mukmin harus selalu ingat kepada Allah dalam keadaan dan kondisi apa
pun, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring sekalipun.[20]
Selain itu, ayat di atas juga bias membawa pembaca terhadap kesadaran ekologis,
karena seorang mukmin juga dituntut harus peka terhadap keadaan di sekitarnya.
Seorang mukmin harus tau bahwasanya terciptanya seluruh makhluk yang ada di
langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam mempunyai keteraturan system
yang luar biasa. Tiada system yang luar biasa hebatnya dibandingkan system yang
berjalan di alam semesta ini. Semua ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah
yang harus direnungkan oleh setiap mukmin agar hatinya selalu tumbuh kebesaran
penciptanya yaitu Allah.
Banyak anjuran yang mendorong agar manusia melakukan tafakkur, baik anjuran yang berasal dari
Al-Qur’an maupun yang berasal dari Hadis. Dalam Al-Qur’an anjuran untuk
melakukan tafakkur anatara lain
dengan lain dengan redaksi kalimat la’allakum
tatafakkaru>, afala> tatafakkaru>n, awalan yatafakkaru>, dan
masih banyak lainnya. Sebagai contoh dalam Al-Qur’an surat Ar-rum ayat 8
disebutkan:
أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ
مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨
Terjemahnya:
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya
melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan
sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan
dengan Tuhannya.
Ayat di atas mengadung anjuran untuk mentafakkuri proses penciptaan manusia,
pernciptaan langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di dalamnya. Karena
sesungguhnya Allah menciptakan semua itu mempunyai maksud dan tujuan yang benar
bagi mereka yang mau menatafakkurinya. Dalam pandangan Quraish Shihab ayat di
atas adalah bentuk kecaman Allah terhadap kaum musyrikin yang mata dan kalbu
mereka sudah rusak dan lemah sehingga mereka tidak mampu melihat bukti-bukti
kebesaran Allah yang terbentang luas di alam raya ini.[21]
Jika mereka mampu menggunakan mata dan kalbunya dengan baik untuk memahami dari
mana mereka dilahirkan, bagaimana mereka tumbuh menjadi besar dan tua kemudian
mati, kemana mereka kembali setelah mati, serta merenungkan alam raya ini maka
itu pasti mengantarkan kepada mereka kepada keyakinan tentang keesaan Allah
serta keniscayaan hari kebangkitan.[22]
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ
وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ
إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤
Terjemahnya:
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan
kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Q.S.An-Nahl:44).
Anjuran yang menyatakan pentingnya bertafakkur selain Al-Qur’an juga
dosebutkan dalam hadis Nabi yaitu;
تفكر وافى الخلق ولا تفكروافى الخالق فانكم لاتقدون
قدره
Artinya:
Merenunglah tentang
ciptaan dan jangan kau merenung tentang pencipta, karena kalian tidak akan
mampu untuk mencapainya.[23]
Hadis di atas merupakan salah satu bentuk
anjuran bertafakkur yang disampaikan
oleh Rasulullah. Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa hendaknya bertafakkur itu hanya pada cakupan makhluk ciptaan Allah bukan pada penciptanya.
Ada sebuah riwayat yang lain yang menyatakan, “berfikirlah pada tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan janganlah kamu
berfikir tentang (zat) Allah.”[24] Dari berbagai anjuran bertafakkur baik dari Al-Qur’an maupun Hadis, hal tersebut yang
menjadikan ahli hikmah dan para sufi terkadang meluangkan waktunya hanya untuk bertafakkur mengenai ciptaan Allah. Mereka
paham dengan bertafakkur mereka akan
mendapatkan ketenangan, mengetahui kebaikan dan keburukan dan mengetahui
rahasia di balik makhluk ciptaan Allah.
Kata al-fikr di
dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali. Dengan berbagai redaksi,
dengan fakkara satu ayat, tatafakkaru satu ayat, tatafakkarun tiga, yatafakkaru
dua ayat, dan yatafakkarun sebelas ayat.
Menurut Ahmad
Warson Munawwir dalam Kamus al-Munawwir kata fakkara mempunyai arti
memikirkan, mengingatkan. Sedangkan kata al-fikr yang menjadi
bentuk masdarnya diartikan sebagai pikiran atau pendapat.[25]
Al-Rāgib al-Asfahānī dalam kitabnyaMu‘jam Mufrodāt li Alfāẓ al-Qur’ān sebagaimana disebutkan oleh
Dr. Yūsuf Qaraḍāwī dalam kitab Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan menulis bahwa, “Pemikiran
merupakan sesuatu kekuatan yang berusaha mencapai suatu ilmu pengetahuan. Dan
tafakkur adalah bekerjanya kekuatan itu dengan bimbingan akal. Dengan kelebihan
itulah manusia berbeda dengan hewan. Dan objek pemikiran adalah sesuatu yang
dapat digambarkan dalam hati bukan yang lain”.[26]
Al-Rāgib al-Asfahānī juga meriwayatkan beberapa
pendapat kalangan Sastrawan Arab untuk menjelaskan makna asli penggunaan term
Bahasa Arab al-fikr. Ia berkata, “Kalimat ini merupakan
hasil proses perubahan dari bentuk kata al-fark “menggosok”. Bentuk fark
dugunakan unutk objek yang konkret, sedangkan term fikr digunakan untuk
makna-makna dan objek pemikiran (abstrak). Ia adalah usaha menggalai sesuatu
dan menemukannya untuk mencapai hakikatnya”.
E.
Objek dan Keutamaan Tafakkur dalam
Al-Qur’an
Dr. Yūsuf Qaraḍāwī dalam kitab yang sama juga
menulis, bahwa ada lima objek tafakkur yang terangkum dalam
al-Qur’an.[27]
1.
Alam semesta adalah objek tafakur
Al-Qur’an
mengajak untuk berpikir dengan beragam redaksi tentang segala hal, kecuali
tentang zat Allah swt karena mencurahkan akal untuk memikirkan dzat-Nya adalah
pemborosan akal dan mengingat pengetahuan tentang dzat Allah swt tidak mungkin
dicapai oleh manusia. Sehingga hendaknya kaum ulū al-albāb mencurahkan segenap potensi mereka
untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi beserta isinya dengan seluruh
pengaturannya agar mencapai kesimpulan bahwa penciptaan semua itu adalah sebuah
hikmah dan bukan untuk kesia-siaan (Āli Imrān [3]: 191).
2.
Berpikir tentang dimensi-dimensi maknawi
Berpikir tidak
terbatas pada dimensi materiil saja, namun juga menyentuh sisi-sisi maknawi,
seperti hubungan antara suami-istri yang menjadi salah satu tanda kebesaran
Allah swt (Qs. ar-Rūm [30]: 187), perlakuan Allah swt terhadap jiwa
manusia ketika manusia sedang tidur dan ketika ia menemui ajalnya (Qs. az-Zumar
[39]: 42), dan termasuk pula memikirkan metafora-metafora yang Allah swt
ciptakan bagi orang-orang yang tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya dan
mengumpamakannya seperti anjing (Qs. al-A‘rāf [7]: 175-176).
3.
Berpikir tentang ayat-ayat tanzīliyah (wahyu)
Objek kajian akal bukan hanya ayat-ayat kauniyah saja, tetapi
termasuk pula ayat-ayat yang diturunkan dalam bentuk wahyu seperti Allah swt
mengumpamakan orang munafik yang beramal dengan riya seperti orang yang
membakar kebunnya sendiri, sedang dia dan anak-anaknya yang masih kecil amat
membutuhkan kebun itu (Qs. al-Baqarah [2]: 66). Juga ayat-ayat yang diturunkan
Allah swt untuk menuntun hamba-hambanya menuju kepadanya, menunjukan kebenaran
yang diturunkan Allah swt dalam kitab-kitab yang diurunkan dan Rasul-rasul yang
diutus (Qs. an-Naḥl [16]: 44 dan al-An‘ām [8]: 50).[56]
4.
Tafakur secara total, berdua atau sendiri
Di antara
ayat-ayat yang mendorong untuk bertafakur (berpikir) adalah firman Allah swt
SWT dalam surat Saba’ ayat 46:
قل إنما أعظكم بواحدة أن تقوموا لله مثنى وفرادى ثم تتفكروا ما بصاحبكم من
جنة إن هو إلا نذير لكم بين يدي عذاب شديد
Dalam ayat
tersebut Allah swt memberi perintah kepada Rasul saw agar memberikan nasihat
kepada kaumnya dan mendorong mereka untuk melakukan satu hal, tidak yang
lainnya, hingga mereka akan mengetahui hakikat kenabiannya dan kepribadiannya.
Dan satu hal yang dituntut itu terdiri atas dua langkah:pertama, agar
mereka menghadap kepada Allah swt berdua atau sendirian. Kedua,
agar mereka berpikir, artinya menggunakan pikiran mereka, tidak membuatnya
beku.
5.
Al-Qur’an, objek berpikir yang sangat luas
Imam al-Gazālī menjelaskan tentang objek
pemikiran ciptaan-ciptaan Allah swt terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama,
yang tidak diketahui wujudnya dan ini tidak mungkin dipikirkan seperti dalam
surat Yāsin [36]: 36
سبحان الذي خلق الأزواج كلها مما تنبت الأرض ومن أنفسهم ومما لا يعلمون
Kedua, yang diketahui asa dan jumlahnya
namun tidak diketahui secara rinci. Dan kita baru mengetahui detailnya dengan
berpikir. Bagian ini juga dibagi menjadi menjadi sesuatu yang dapat diketahui
dengan penglihatan mata dan ada yang tidak dapat kita lihat dengan mata. Dan
yang tidak dapat dilihat dengan mata seperti jin, malaikat setan, ‘arsy dan
lain-lain. Dan fungsi pemikiran pada bagian ini agak sempit dan terbatas.
Keutamaan Tafakur
Rasulullah
saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi,
berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang
Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini
menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan
Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah berderajat hasan.
Hadits itu
berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk
yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia
bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga
mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat
berpikir.
Karena itu,
Rasulullah saw. menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur
yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan,
ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Agar tujuan itu
tercapai, Rasulullah saw. memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam
bertafakur. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai
makhluk ciptaan Allah swt. Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah
karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Alllah
bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.
Fadhaailut Tafakkuri (Keutamaan Tafakur)
Setidaknya ada empat keutamaan tafakur,
yaitu:
1.
Allah memuji orang-orang yang
senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan
menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191.
Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari
ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan
perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui
bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa
memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh
karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah
senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju
Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka
mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”
2.
Tafakur termasuk amal yang terbaik
dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban
berbunyi, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Kenapa begitu?
Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh
suatu ibadah yang dilakukan selama setahun. Abu Darda’ seorang sahabat yang
terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia
menjawab, “Tafakur.” Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga
hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan. Dengan tafakur, kita bisa
melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita,
mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.
3.
Tafakur bisa mengantarkan kita
kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa
menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur.”
Hatim menambahkan, “Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu
pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan
kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepadaNya.” Imam
Syafi’i menegaskan, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan
milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.” (lihat
Mau’idhatul Mu’minin)
4.
Tafakur adalah pangkal segala
kebaikan. Ibnul Qayyim berkata, “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan
akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan
hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi,
berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan
kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk
amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, ‘Tafakur
sesaat lebih baik daripada ibadah setahun’. Tafakur bisa mengubah dari
kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal
yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari
penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju
bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju
kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli,
dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah,
dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan
keimanan yang menentramkan.” (Miftah Daris Sa’adah: 226).
Nataaijut Tafakkuri (Buah Tafakur)
1.
Kita akan mengetahui hikmah dan
tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan
dan rasa syukur.
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang
(kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada
diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang
ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar
akan Pertemuan dengan Tuhannya. [Ar-Ruum, 8]
2.
Kita bisa membedakan mana yang
bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga
berusaha mengindarinya.
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan
judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat
bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka
bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari
keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu
berpikir. (Al-Baqarah: 219)
3.
Kita bisa memiliki keyakinan yang
kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap
opini yang berkembang.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak
memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah
(dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan
(tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia
tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang
keras. (Saba: 46)
4.
Kita bisa memperhatikan hak-hak
diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki
orang lain dan lupa pada diri sendiri.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan)
kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu
membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Al-Baqarah: 44)
5.
Kita bisa memahami bahwa akhirat
itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan
orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.
Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat
adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu
memikirkannya? (Yusuf: 109)
Dan apa saja[1130] yang diberikan kepada
kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa
yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak
memahaminya? (Al-Qashash: 60). [1130] Maksudnya: hal-hal yang berhubungan
dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.
6.
Kita bisa menghindari diri dari
kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.
Maka apakah mereka tidak mengadakan
perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan
orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)
7.
Bisa menghindari diri dari siksa
neraka karena bia memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan
kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.
Dan mereka berkata, “Sekiranya kami
mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk
penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 10)
Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah
selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami? (Al-Anbiyaa’ : 67)
Dhawabithut Tafakkuri (Batasan Tafakur)
Imam
Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain
Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun
memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan
keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena
seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis
sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.
Jadi, tafakur
adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu
ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.
Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim
sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan
sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada
dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak
faktor, di antaranya:
Kedalaman ilmu
Konsentrasi pikiran
Kondiri emosional dan rasional
Faktor lingkungan
Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
Teladan dan pergaulan
Esensi sesuatu
Faktor kebiasaan
Konsentrasi pikiran
Kondiri emosional dan rasional
Faktor lingkungan
Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
Teladan dan pergaulan
Esensi sesuatu
Faktor kebiasaan
Dilarang Tafakkur Mengenai Dzat Allah Swt.
Setidaknya ada dua alasan, yaitu:
1. Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar
keagunganNya.
Allah swt.
tidak terikat ruang dan waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi Tuhanmu tidak
ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya
wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat, ketika Allah
datang untuk memberikan keputusan bumi akan tenang oleh cahayaNya.
(Dia) Pencipta
langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri
pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula),
dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang
serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (Asy-syuuraa:
11)
Dia tidak
dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang
kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui. (Al-An’am: 103)
Ibnu Abbas
berkata, “Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya
terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana kamu bisa membayangkan
keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimunti
oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.”
2. Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan
kebinasan.
Memberlakukan
hukum Sang Khalik terhadap makhluk ini adalah sikap ghulluw (berlebihan).
Itulah yang terjadi di kalangan kaum Rafidhah terhadap Ali r.a. Sebaliknya,
memberlakukan hukum makhluk terhadap Sang Khalik ini sikap taqshir. Perbuatan
ini dilakukan oleh aliran sesat musyabihhah yang mengatakan Allah memiliki
wajah yang sama dengan makhluk, kaki yang sama dengan kaki makhluk, dan
seterusnya.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Allah
menyuruh manusia berpikir tentang kosmologi, bentuknya, penciptaannya, dan
pengaturan peredarannya. Allah swt juga menyuruh manusia mempelajari sunatullah
dalam segala bentuk ilmu pengetahuan.
2.
Menurrut
kacamata Al-Qur’an orang-orang yang mengdurhakai Allah swt itu karena
disebabkan “cacat intelektual”. Betapa pun mereka berpikir dan bahkan sebagian
mereka ada yang turut mempunyai andil untuk mengembangkan peradaban manusia,
namun selama proses berpikir tidak mengantarkan mereka ke derajat “bertaqwa” ,
maka selama itu pula mereka tetap berada dalam kategori orang-orang yang “tidak
berpikir”.
3.
Beberapa
factor terpenting yang menjadi hambatan proses berpikir dan menyebabkan kondisi
stagnasi yang akhirnya menghalangi pengungkapan kebenaran; (1) berpegang pada
pemikiran lampau.(2) tidak memiliki keterangan yang memadai.(3) hawa nafsu dan
kecenderungan jiwa.
4.
Tafakkur
merupakan komponen penting yang harus dimiliki bagi setiap orang beriman karena
merupakan cerminan seorang mukmin.
file:///C:/Users/PARAZE~1/AppData/Local/Temp/preview/quiz.swf
5.
Objek
tafakkur (1) alam semesta (2) berpikir tentang dimensi-dimensi maknawi (3)
berpikir tentang ayat-ayat tanziliyah (wahyu) (4) Tafakkur secara total,
berdua atau sendiri (5) Al-Qur’an objek berpikir yang sangat luas.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah
Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan
Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf dan Taqarrub),(Jakarta:Pustaka Atisa,1992)
A.Ilyas
Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin,
Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo
Persada,2008)
Abi
Abdillah Muhammad Bin Ahmad Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka
Azzam, 2008)
Abi
Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 4.
M.Quraish
Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan
Keserasian Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).
Abu>
Al-Qa>sim Sulaima>n bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam Al-Ausat,
(Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4,
Hamzah
Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan
Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf dan
Taqarrub), (Jakarta:Pustaka Atisa,1992),
Harun
Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam, (Jakarta:
UI-Prees,1986),
M.Alfatih
Suryadilaga,Konsep Ilmu dalam Kitab Hadis
Studi Atas Kitab Al-Ka>fi Karya Al-Kulaini>,(Yogyakarta:Teras,2009),
Muhammad
Utsman Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu an-Nafs, alih bahasa Addys
Aldizar dan Tohirin Suparta, Cet. Ke-1 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006),
Fathurrahman
Jamil, “Peranan Akal dalam Pandangan Ulama dan Mufassir”,http://duniabaca.com/peranan-akal-dalam-pandangan-ulama-dan-mufassir.html
Ending
Saifudin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: Bina
Ilmu, 1986),
Dr. Daud
Rasyid, M.A, Islam dalam Berbagai Dimensi, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998),
Muhammad Utsman
Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu
A.Ilyas
Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin,
Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo
Persada,2008).
Abi
Abdillah Muhammad Bin Ahmad Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka
Azzam, 2008),
Abi
Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 4 ,
M.Quraish
Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan
Keserasian Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).
Abu>
Al-Qa>sim Sulaima>n bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam Al-Ausat,
(Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4,
Hamzah
Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan
Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf dan
Taqarrub), (Jakarta:Pustaka Atisa,1992),
A.
Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap,
(Surabaya: Pustaka Progressif, 1997),
Yūsuf Qaraḍawi, al-’Aql
wa al-‘Ilmu fi al-Qur’ān al-Karīm, alih bahasa Abdul Hayyi al-Kattani, dkk, Cet. Ke-1 (Kairo:Maktabah
Wahbah, 1996),
[1]Yang dimaksud di sini adalah
manusia. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan dalam Al-Qur’an surat
At-Tin ayat 4 yang artinya “ sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
[2]Lihat QS. Al Imran 191. “Tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”
[3]Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin
(Tashawuf dan Taqarrub),(Jakarta:Pustaka Atisa,1992), h.169
[4]A.Ilyas Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin, Pemikiran,
Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo
Persada,2008),h.155.
[5]Abi Abdillah Muhammad Bin Ahmad
Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi,
Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008),h,781.
[6]Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad
Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi,
jilid 4 , h.781-782
[7]M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).h.14.
[8]M.Quraish Shihab. h.16.
[9]Abu> Al-Qa>sim Sulaima>n
bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam Al-Ausat,
(Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4, h.779.
[10]Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf
dan Taqarrub), (Jakarta:Pustaka
Atisa,1992),h.170.
[11]Harun Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam, (Jakarta: UI-Prees,1986),h.49.
[12] M.Alfatih Suryadilaga,Konsep Ilmu dalam Kitab Hadis Studi Atas
Kitab Al-Ka>fi Karya Al-Kulaini>,(Yogyakarta:Teras,2009),h.123.
[13] Muhammad
Utsman Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu an-Nafs, alih bahasa Addys
Aldizar dan Tohirin Suparta, Cet. Ke-1 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), h.135.
[14] Fathurrahman
Jamil, “Peranan Akal dalam Pandangan Ulama dan Mufassir”,http://duniabaca.com/peranan-akal-dalam-pandangan-ulama-dan-mufassir.html
[16]Dr. Daud
Rasyid, M.A, Islam
dalam Berbagai Dimensi, (Jakarta: Gema
Insani Press, 1998), h. 87-97.
[18]A.Ilyas Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin, Pemikiran,
Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo
Persada,2008),h.155.
[19]Abi Abdillah Muhammad Bin Ahmad
Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi,
Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008),h,781.
[20]Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad
Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi,
jilid 4 , h.781-782
[21]M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).h.14.
[22]M.Quraish Shihab. h.16.
[23]Abu> Al-Qa>sim Sulaima>n
bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam Al-Ausat,
(Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4, h.779.
[24]Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf
dan Taqarrub), (Jakarta:Pustaka
Atisa,1992),h.170.
[25] A. Warson Munawwir, Kamus
al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif,
1997), h. 1068
[26] Yūsuf
Qaraḍawi, al-’Aql wa al-‘Ilmu fi
al-Qur’ān
al-Karīm, alih bahasa Abdul Hayyi al-Kattani, dkk, Cet. Ke-1 (Kairo:Maktabah
Wahbah, 1996), h.19.