Rabu, 05 Oktober 2016

TAFAKKUR DALAM AL-QUR'AN





TAFAKKUR DALAM AL-QUR’AN





stain parepare










MAKALAH
Disusun dan akan dipersentasikan
pada seminar kelas A2


O l e h

KELOMPOK  III

       HASNAH
   MIRNAWATI
        NURHASMAN


PROGRAM  PASCASARJANA (PPs)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PAREPARE
2015

I.     PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Salah satu karakteristik penting yang harus dimiliki oleh orang yang beriman kepada Allah adalah kemampuan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah melalui makhluk-Nya. Ia harus dapat melihat kekuasaan dan kebesaran karya seni-Nya di setiap kelembutan dan kesempurnaan makhluk-Nya,[1] seraya ia memuji kebesaran-Nya. Allah menciptakan segala makhluk yang ada di alam semesta ini adalah sebagai pengingat dan petunjuk akan kebesaran Allah, bukan sebagai tontonan yang tidak ada faedahnya. Tidak ada satu makhluk ciptaan Allah yang sia-sia.[2] Makhluk satu dengan makhluk lainnya semuanya saling berkaitan satu sama lain yang berfungsi untuk menjaga keteraturan system yang ada di alam semesta ini. Memahami karakteristik ini tersebut dengan tafakkur. Apabila seorang mukmin mampu melihat kebesaran dan kekuasaan Allah dalam setiap makhluk dan ciptaan-Nya dalam artian mampu bertafakkur, maka ia akan merasa selalu dekat dengan Allah.
Meluangkan waktu atau mengisi waktu untuk bertafakkur adalah salah satu acara yang menarik bagi ahli hikmah dan ahli taqwa dalam menghadirkan kebesaran Allah di hatinya.[3] Tafakkur di sini berarti merenungkan kebesaran dan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengawasi serta menjaga keteraturan system yang dibuat-Nya di alam semsta ini. Dengan tafakkur ia akan menemukan rahasia di balik semua makhluk Allah dan selalu menumbuhkan kebesaran allah di dalam hatinya.
Tafakkur merupakan komponen penting yang harus dimiliki bagi setiap orang beriman,[4] karena tafakkur  merupakan cerminan seorang mukmin. Ia dapat melihat segala kebaikan dan keburukan melaluinya. Demikian penjelasan Al-Hasan.[5] Dengan tafakkur  maka seorang mukmin akan mengetahui hakikat dan rahasia makhluk ciptaan-Nya atau suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya. Ia juga akan mengetahui suatu kebaikan dan keburukan yang terkandung dalam setiap perintah dan larangan-Nya. Tidak dikatakan seorang mukmin sejati yang cerdas jika ia tidak berzikir dan bertafakkur  terhadap apa yang ada di alam semesta ini, sebagaimana yang diungkapkan dalam (Q.S.Ali Imran ayat 190-191:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. 191.(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ayat di atas di samping sebagai anjuran bagi manusia untuk bertafakkur  juga menunjukkan salah satu karakteristik sorang mukmin yang harus dimiliki, yaitu selalu ingat kepada Allah dan bertafakkur terhadap ciptaan-Nya. Seorang mukmin harus selalu ingat kepada Allah dalam keadaan dan kondisi apa pun, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring sekalipun.[6] Selain itu, ayat di atas juga bias membawa pembaca terhadap kesadaran ekologis, karena seorang mukmin juga dituntut harus peka terhadap keadaan di sekitarnya. Seorang mukmin harus tau bahwasanya terciptanya seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam mempunyai keteraturan system yang luar biasa. Tiada system yang luar biasa hebatnya dibandingkan system yang berjalan di alam semesta ini. Semua ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan oleh setiap mukmin agar hatinya selalu tumbuh kebesaran penciptanya yaitu Allah.
Banyak anjuran yang mendorong agar manusia melakukan tafakkur, baik anjuran yang berasal dari Al-Qur’an maupun yang berasal dari Hadis. Dalam Al-Qur’an anjuran untuk melakukan tafakkur anatara lain dengan lain dengan redaksi kalimat la’allakum tatafakkaru>, afala> tatafakkaru>n, awalan yatafakkaru>, dan masih banyak lainnya. Sebagai contoh dalam Al-Qur’an surat Ar-rum ayat 8 disebutkan:
أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨
Terjemahnya:
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.

Ayat di atas mengadung anjuran untuk mentafakkuri proses penciptaan manusia, pernciptaan langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di dalamnya. Karena sesungguhnya Allah menciptakan semua itu mempunyai maksud dan tujuan yang benar bagi mereka yang mau menatafakkurinya. Dalam pandangan Quraish Shihab ayat di atas adalah bentuk kecaman Allah terhadap kaum musyrikin yang mata dan kalbu mereka sudah rusak dan lemah sehingga mereka tidak mampu melihat bukti-bukti kebesaran Allah yang terbentang luas di alam raya ini.[7] Jika mereka mampu menggunakan mata dan kalbunya dengan baik untuk memahami dari mana mereka dilahirkan, bagaimana mereka tumbuh menjadi besar dan tua kemudian mati, kemana mereka kembali setelah mati, serta merenungkan alam raya ini maka itu pasti mengantarkan kepada mereka kepada keyakinan tentang keesaan Allah serta keniscayaan hari kebangkitan.[8]
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤
Terjemahnya:
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Q.S.An-Nahl:44).
Anjuran yang menyatakan pentingnya bertafakkur selain Al-Qur’an juga dosebutkan dalam hadis Nabi yaitu;
تفكر  وافى الخلق ولا تفكروافى الخالق فانكم لاتقدون قدره
Artinya:
            Merenunglah tentang ciptaan dan jangan kau merenung tentang pencipta, karena kalian tidak akan mampu untuk mencapainya.[9]
Hadis di atas merupakan salah satu bentuk anjuran bertafakkur yang disampaikan oleh Rasulullah. Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa hendaknya bertafakkur  itu hanya pada cakupan  makhluk ciptaan Allah bukan pada penciptanya. Ada sebuah riwayat yang lain yang menyatakan, “berfikirlah pada tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan janganlah kamu berfikir tentang (zat) Allah.”[10]     Dari berbagai anjuran bertafakkur baik dari Al-Qur’an maupun Hadis, hal tersebut yang menjadikan ahli hikmah dan para sufi terkadang meluangkan waktunya hanya untuk bertafakkur mengenai ciptaan Allah. Mereka paham dengan bertafakkur mereka akan mendapatkan ketenangan, mengetahui kebaikan dan keburukan dan mengetahui rahasia di balik makhluk ciptaan Allah.
Di era 21 ini tidak banyak orang yang mampu menggunakan akal dan hatinya untuk bertafakkur . hal itu karena akal dan hati mereka tertutupi dengan gemerlapnya keindahan dunia yang mengakibatkan mereka lupa akan Tuhannya. Mereka menggunakan kekuatan akalnya hanya untuk mencari cara agar apa yang mereka inginkan selalu tercapai. Mereka menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, baik berupa pangkat jabatan, kekayaan yang melimpah istri yang cantik dan lain sebagainya yang bersifat duniawi tanpa memperhatikan risiko yang akan terjadi. Mereka tidak memperhatikan keteraturan system yang ada di jagad alam raya ini. Sehingga di era ini banyak bencana alam yang terjadi di muka bumi ini akibat ilah mereka sendiri yang tidak mau memperhatikan (melakukan tafakkur) apa yang terjadi di alam semesta ini.
Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi ini, karena Dia telah menganugerahi manusia dengan akal.[11] Akal merupakan potensi yang paling unggul yang diberikan Allah kepada manusia agar manusia bias memahami sesuatu yang ada dalam kehidupan ini.[12] Manusia bias memiliki derajat yang paling mulia di disisi Allah dan di antara makhluk lainnya apabila ia mampu menggunakan potensi akalnya dan menghubungkan dengan hatinya untuk melihat, memahami dan selalu ingat akan kebesaran Allah yang terbentang luas di alam raya .
Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang tafakkur dalam Al-Qur’an. Penulis ingin mengetahui lebih lanjut bagaimanakah konsep tafakkur yang sebenarnya.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, penulis membuat rumusan masalah sebagai pokok pembahasan yang paling utama dalam penyusunan makalah sebagai berikut;
1.      Bagaimana Konsep Berpikir dalam al-Quran ?
2.      Bagaimana Penggunaan Term Berpikir dalam al-Quran ?
3.      Bagaimana Faktor Penghambat Berpikir Mengalami Stagnasi ?
4.      Bagaimana Tafakkur dalam al-Quran ?
5.      Bagaimana Objek Tafakkur dalam al-Quran ?
C.   Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat disimpulkan tujuan pembahasan yang akan menjadi subtansi pembahasan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut;
1.      Untuk Mengetahui Konsep Berpikir dalam al-Quran.
2.      Untuk Mengetahui Penggunaan Term Berpikir dalam al-Quran.
3.      Untuk Mengetahui Faktor Penghambat Berpikir Mengalami Stagnasi.
4.      Untuk Mengetahui Tafakkur dalam al-Quran.
5.      Untuk Mengetahui Objek Tafakkur dalam al-Quran.













II.           PEMBAHASAN
A.    Konsep Berfikir Dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an telah menyeru kepada seluruh manusia untuk berpikir, “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah swt (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad).” (Qs. Saba’ [34]: 46)
Dalam ayat lain, Allah swt swt juga menyuruh manusia berpikir tentang kosmologi, bentuknya, penciptaannya, dan pengaturan peredarannya. Allah swt juga menyuruh manusia mempelajari sunatullah dalam segala bentuk ilmu pengetahuan. Allah swt swt berfirman, “Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah swt menciptakan (manusia) dari permulaannya’.”(Qs. al-‘Ankabūt [29]: 20).
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”(Qs. al-ajj [22]: 46). “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah swt?”(Qs. al-A’rāf [7]: 185).[2] Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mengajak manusia memikirkan apa yang ada dalam alam semesta ini.
 Ayat-ayat tersebut merupakan sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis, dan mengkaji secara ilmiah tentang semua makhluk, dan tentang semua fenomena kosmologi. Al-Qur’an tidak hanya menyuruh manusia untuk berpikir dan mengkaji secara ilmiah tentang fenomena alami, tetapi juga untuk berpikir tentang rahasia pembentukan dirinya secara biologis dan kejiwaan. Dengan kata lain, al-Qur’an mengajak manusia untuk sering mengkaji ilmu biologi, psikologi, kedokteran, dan kejiwaan.[13]
Al-Qur’an tidak menuntut untuk menerima begitu saja apa yang disampaikan kepada manusia. Tetapi memaparkan masalah dan membuktikannya dengan argumentasi-argumentasi, bahkan menguraikan pandangan-pandangan penentangnya seraya membuktikan kekeliruannya. Ada masalah keagamaan yang tidak dapat diyakini kecuali melalui pembuktian logika, dan ada juga ajaran-ajaran agama yang sukar dipahami dengan akal namun tidak bertentangan dengan akal. Penggunaan akal tanpa diiringi dengan keimanan pada agama dan kepercayaan pada keterbatasan akal akan membuat manusia mempertuhankan akal dan terjerumus dalam jurang kesalahan. Akal dapat berargumentasi tentang ada dan tiadanya Tuhan.[14]
Rasio yang dimaksud di sini bukanlah apa yang tersusun dalam akal manusia atau mantik secara fitrah yang mempola dasar setiap pemahaman. Namun yang dimaksud rasio di sini adalah sesuatu yang dapat mengantarkan rasio manusia dari beragam ilmu dan pengetahuan sebagai produk dari sebuah pengamatan dan penelitian. Ilmu pengetahuan ini mempunyai kemungkinan untuk dijadikan sebagai dasar memahami maksud Allah swt dalam nas-nas wahyu.
Dalam kitab al-Khawāṭir (mind) karya Syaikh Mutawallī Syarawī disebutkan bahwa pikiran adalah keistimewaan yang dipakai manusia untuk memilih sesuatu dari beberapa alternatif dan menentukan pilihan pada hal yang menguntungkan masa depan diri dan keluarganya. Dalam buku What People Think Will Be Acquired, James Allen menulis bahwa adanya pemikiran pada manusia membuatnya mampu menentukan pilihan dalam hidup. Dalam ilmu psikologi sosial, para ilmuwan sepakat bahwa kemampuan berpikir yang ada pada manusia telah menjadikannya sebagai makhluk yang paling spesial. Kemampuan itu sebagai pembeda antara manusia dengan binatang, tumbuhan, dan benda mati.


B.     Konteks Penggunaan Term Berfikir Dalam Al-Qur’an
            Salah satu kelebihan penting yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk Allah swt lain seperti tumbuhan dan hewan adalah manusia lebih dapat memaksimalkan penggunakan otaknya untuk berpikir. Dan satu-satunya alat manusia untuk berpikir adalah akal yang dalam Bahasa Arab adalah ‘aql. Ibnu Khaldun (1332-1406) ahli Filsafat Sejarah, Bapak Sosiologi dalam karya utamanya “Muqaddimah” mengemukakan tentang akal, sebagai berikut:
“Kemudian ketahuilah, bahwa Allah swt membedakan manusia dari hewan dengan kesanggupan berpikir, sumber dari segala kesempurnaan, dan puncak dari segala kemuliaan dan ketinggian di atas makhluk lainnya. Sebabnya ialah karena pengertian, yaitu kesadaran dalam diri tentang kejadian di luar dirinya, hanyalah ada pada hewan saja, tidak terdapat pada lain-lain barang (yang makhluk) sebab hewan menyadari akan apa yang ada di luar dirinya dengan perantaraan panca inderanya  (pendengaran, penglihatan, bau, perasa lidah, sentuh) yang diberikan Allah swt kepadanya. Sekarang manusia memahami ini dengan kekuatan memahami apa yang ada dibalik panca inderanya. Pikiran bekerja dengan perantaraan kekuatan yang ada di tengah-tengah otak yang memberi kesanggupan kepadanya menangkap bayangan-bayangan benda yang biasa diterima oleh panca indra dan kemudian mengembalikan benda iitu dalam ingatannya sambil meringkas lagi bayangan benda-benda itu. Refleksi itu terdiri dari penjamahan bayangan-bayangan ini (di balik perasaan) oleh akal, yang memecah atau menghimpun bayangan-bayangan itu (untuk membentuk bayangan-bayangan lain).[15]
Islam memandang berpikir itu sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebab dengan berpikir, manusia menyadari posisinya sebagai hamba dan memahami fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi. Tugasnya hanyalah menghambakan diri kepada Allah swt dengan beribadah. Dengan berpikir juga, manusia mengetahui betapa kuasanya Allah swt menciptakan alam semesta dengan kekuatan yang Maha Dahsyat, dan dirinya sebagai manusia sangat kecil dan tidak berarti apa-apa di hadapan Allah swt Yang Maha Berkuasa.
Al-Qur’an berkali-kali merangsang manusia, khususnya orang beriman, agar banyak memikirkan dirinya, lingkungan sekitarnya, dan alam semesta. Karena dengan berpikir itu, manusia akan mampu mengenal kebenaran, yang kemudian untuk diimani dan dipegang teguh dalam kehidupan. Allah swt berfirman, “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).
Islam memandang kaitan antara keilmuan dengan ketakwaan itu sangat erat. Dalam arti, semakin dalam ilmu seseorang akan semakin takut kepada Allah swt SWT. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah swt SWT adalah orang-orang yang berilmu dari hamba-Nya.” (Qs. Fāṭir [35]: 28).
Menurut kacamata Al-Qur’an, orang-orang yang mendurhakai Allah swt itu karena disebabkan “cacat intelektual”. Betapa pun mereka berpikir dan bahkan sebagian mereka ada yang turut mempunyai andil untuk mengembangkan peradaban manusia, namun selama proses berpikir tidak mengantarkan mereka ke derajat “bertakwa”, maka selama itu pula mereka tetap berada dalam kategori orang-orang yang “tidak berpikir”.[16]
C.   Faktor penghambat berpikir mengalami stagnasi
Al-Qur’an telah menyebutkan beberapa faktor terpenting yang menjadi hambatan proses berpikir dan menyebabkan kondisi stagnasi yang akhirnya menghalangi pengungkapan kebenaran. [17]
Yang pertama adalah berpegang pada pemikiran lampau. Manusia biasanya cenderung berpegang teguh denegan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Pengikisan terhadap adat-istiadat dan pemikiran-pemikiran lampau menjadi sebauah tugas yang membutuhkan kesungguhan ekstra. Al-Qur’an menggambarkan sandaran kebanyakan manusia sepanjang sejarah pada akidah nenek moyang mereka lantaran ketidakmampuan mereka untuk melihat akidah yang diserukan oleh beberapa Nabi dan Rasul dengan pemikiran yang independen dari batasan ibadah, adat, dan pemikiran masa lampau. Dengan kata lain, bersandar pada pemikiran, kebiasaan, dan adat nenek-moyang, merupakan faktor paling dominan dalam membentuk stagnasi berpikir.
Yang kedua, tidak memiliki keterangan yang memadai. Hal ini membuat manusia sulit untuk berpikir jernih dalam suatu objek tertentu. Hasil pemikiran tidak akan dapat dipertanggungjawabkan bila tidak ada landasan kuat yang mendukung kebenaran hasil pemikiran tersebut. Al-Qur’an telah menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan-pengetahuan tentang objek  masalah dalam mencari kebenaran yang hakiki. Al-Qur’an melarang kita mengemukakan pendapat yang tidak dilandasi oleh ilmu pengetahuan, sebagaimana al-Qur’an melarang kita mendengarkan perkataan dan pendapat yang tidak didasari oleh ilmu dan kejelasan dalil (Qs. al-Isrā’ [17]: 36).
Yang ketiga adalah hawa nafsu dan kecenderungan jiwa. Ilmu jiwa telah membuktikan tentang adanya kesalahan dalam berpikir akibat mengikuti hawa nafsu dan terpengaruh dengan kecenderungan. Oleh karena itu, seorang pemikir harus selalu berusaha berada pada jalan kebenaran dan membebaskan dirinya dari pengaruh emosi dan fanatisme yang membelenggu pola pikirnya dalam mencari kebenaran. Keadaan emosi kita dapat mempengaruhi pemikiran dan cenderung pada pemihakan serta terjerumus dalam kekeliruan hukum yang dikeluarkan. Al-Qur’an telah menunjukkan efek negatif dari hawa nafsu, yaitu penyimpangan pemikiran yang menyesatkan manusia dan melemahkan untuk membedakan antara hak dengan batil, kebaikan dengan keburukan, serta petunjuk dengan kesesatan (Qs. al-Qaa [28]: 135).



D.  Tafakkur dalam Al-Qur’an
Tafakkur merupakan komponen penting yang harus dimiliki bagi setiap orang beriman,[18] karena tafakkur  merupakan cerminan seorang mukmin. Ia dapat melihat segala kebaikan dan keburukan melaluinya. Demikian penjelasan Al-Hasan.[19] Dengan tafakkur  maka seorang mukmin akan mengetahui hakikat dan rahasia makhluk ciptaan-Nya atau suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya. Ia juga akan mengetahui suatu kebaikan dan keburukan yang terkandung dalam setiap perintah dan larangan-Nya. Tidak dikatakan seorang mukmin sejati yang cerdas jika ia tidak berzikir dan bertafakkur  terhadap apa yang ada di alam semesta ini, sebagaimana yang diungkapkan dalam (Q.S.Ali Imran ayat 190-191:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. 191.(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ayat di atas di samping sebagai anjuran bagi manusia untuk bertafakkur  juga menunjukkan salah satu karakteristik sorang mukmin yang harus dimiliki, yaitu selalu ingat kepada Allah dan bertafakkur terhadap ciptaan-Nya. Seorang mukmin harus selalu ingat kepada Allah dalam keadaan dan kondisi apa pun, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring sekalipun.[20] Selain itu, ayat di atas juga bias membawa pembaca terhadap kesadaran ekologis, karena seorang mukmin juga dituntut harus peka terhadap keadaan di sekitarnya. Seorang mukmin harus tau bahwasanya terciptanya seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam mempunyai keteraturan system yang luar biasa. Tiada system yang luar biasa hebatnya dibandingkan system yang berjalan di alam semesta ini. Semua ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan oleh setiap mukmin agar hatinya selalu tumbuh kebesaran penciptanya yaitu Allah.
Banyak anjuran yang mendorong agar manusia melakukan tafakkur, baik anjuran yang berasal dari Al-Qur’an maupun yang berasal dari Hadis. Dalam Al-Qur’an anjuran untuk melakukan tafakkur anatara lain dengan lain dengan redaksi kalimat la’allakum tatafakkaru>, afala> tatafakkaru>n, awalan yatafakkaru>, dan masih banyak lainnya. Sebagai contoh dalam Al-Qur’an surat Ar-rum ayat 8 disebutkan:
أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨
Terjemahnya:
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.

Ayat di atas mengadung anjuran untuk mentafakkuri proses penciptaan manusia, pernciptaan langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di dalamnya. Karena sesungguhnya Allah menciptakan semua itu mempunyai maksud dan tujuan yang benar bagi mereka yang mau menatafakkurinya. Dalam pandangan Quraish Shihab ayat di atas adalah bentuk kecaman Allah terhadap kaum musyrikin yang mata dan kalbu mereka sudah rusak dan lemah sehingga mereka tidak mampu melihat bukti-bukti kebesaran Allah yang terbentang luas di alam raya ini.[21] Jika mereka mampu menggunakan mata dan kalbunya dengan baik untuk memahami dari mana mereka dilahirkan, bagaimana mereka tumbuh menjadi besar dan tua kemudian mati, kemana mereka kembali setelah mati, serta merenungkan alam raya ini maka itu pasti mengantarkan kepada mereka kepada keyakinan tentang keesaan Allah serta keniscayaan hari kebangkitan.[22]
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤
Terjemahnya:
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Q.S.An-Nahl:44).
Anjuran yang menyatakan pentingnya bertafakkur selain Al-Qur’an juga dosebutkan dalam hadis Nabi yaitu;
تفكر  وافى الخلق ولا تفكروافى الخالق فانكم لاتقدون قدره
Artinya:
            Merenunglah tentang ciptaan dan jangan kau merenung tentang pencipta, karena kalian tidak akan mampu untuk mencapainya.[23]
Hadis di atas merupakan salah satu bentuk anjuran bertafakkur yang disampaikan oleh Rasulullah. Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa hendaknya bertafakkur  itu hanya pada cakupan  makhluk ciptaan Allah bukan pada penciptanya. Ada sebuah riwayat yang lain yang menyatakan, “berfikirlah pada tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan janganlah kamu berfikir tentang (zat) Allah.”[24]     Dari berbagai anjuran bertafakkur baik dari Al-Qur’an maupun Hadis, hal tersebut yang menjadikan ahli hikmah dan para sufi terkadang meluangkan waktunya hanya untuk bertafakkur mengenai ciptaan Allah. Mereka paham dengan bertafakkur mereka akan mendapatkan ketenangan, mengetahui kebaikan dan keburukan dan mengetahui rahasia di balik makhluk ciptaan Allah.
Kata al-fikr di dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali. Dengan berbagai redaksi, dengan fakkara satu ayat, tatafakkaru  satu ayat, tatafakkarun tiga, yatafakkaru  dua ayat, dan yatafakkarun sebelas ayat.
Menurut Ahmad Warson Munawwir dalam Kamus al-Munawwir kata fakkara mempunyai arti memikirkan, mengingatkan. Sedangkan kata al-fikr yang menjadi bentuk masdarnya diartikan sebagai pikiran atau pendapat.[25]
Al-Rāgib al-Asfahānī dalam kitabnyaMu‘jam Mufrodāt li Alfāẓ al-Qurān sebagaimana disebutkan oleh Dr. Yūsuf Qaraḍāwī dalam kitab Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan menulis bahwa, “Pemikiran merupakan sesuatu kekuatan yang berusaha mencapai suatu ilmu pengetahuan. Dan tafakkur adalah bekerjanya kekuatan itu dengan bimbingan akal. Dengan kelebihan itulah manusia berbeda dengan hewan. Dan objek pemikiran adalah sesuatu yang dapat digambarkan dalam hati bukan yang lain”.[26]
Al-Rāgib al-Asfahānī juga meriwayatkan beberapa pendapat kalangan Sastrawan Arab untuk menjelaskan makna asli penggunaan term Bahasa Arab al-fikr. Ia berkata, “Kalimat ini merupakan hasil proses perubahan dari bentuk kata al-fark “menggosok”. Bentuk fark dugunakan unutk objek yang konkret, sedangkan term fikr digunakan untuk makna-makna dan objek pemikiran (abstrak). Ia adalah usaha menggalai sesuatu dan menemukannya untuk mencapai hakikatnya”.


E.   Objek dan Keutamaan Tafakkur dalam Al-Qur’an
Dr. Yūsuf Qaraḍāwī dalam kitab yang sama juga menulis, bahwa ada lima objek tafakkur yang terangkum dalam al-Qur’an.[27]
1.      Alam semesta adalah objek tafakur
Al-Qur’an mengajak untuk berpikir dengan beragam redaksi tentang segala hal, kecuali tentang zat Allah swt karena mencurahkan akal untuk memikirkan dzat-Nya adalah pemborosan akal dan mengingat pengetahuan tentang dzat Allah swt tidak mungkin dicapai oleh manusia. Sehingga hendaknya kaum ulū al-albāb mencurahkan segenap potensi mereka untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi beserta isinya dengan seluruh pengaturannya agar mencapai kesimpulan bahwa penciptaan semua itu adalah sebuah hikmah dan bukan untuk kesia-siaan (Āli Imrān [3]: 191).
2.      Berpikir tentang dimensi-dimensi maknawi
Berpikir tidak terbatas pada dimensi materiil saja, namun juga menyentuh sisi-sisi maknawi, seperti hubungan antara suami-istri yang menjadi salah satu tanda kebesaran Allah swt (Qs. ar-Rūm [30]: 187), perlakuan Allah swt terhadap jiwa manusia ketika manusia sedang tidur dan ketika ia menemui ajalnya (Qs. az-Zumar [39]: 42), dan termasuk pula memikirkan metafora-metafora yang Allah swt ciptakan bagi orang-orang yang tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya dan mengumpamakannya seperti anjing (Qs. al-A‘rāf [7]: 175-176).
3.      Berpikir tentang ayat-ayat tanzīliyah (wahyu)
            Objek kajian akal bukan hanya ayat-ayat kauniyah saja, tetapi termasuk pula ayat-ayat yang diturunkan dalam bentuk wahyu seperti Allah swt mengumpamakan orang munafik yang beramal dengan riya seperti orang yang membakar kebunnya sendiri, sedang dia dan anak-anaknya yang masih kecil amat membutuhkan kebun itu (Qs. al-Baqarah [2]: 66). Juga ayat-ayat yang diturunkan Allah swt untuk menuntun hamba-hambanya menuju kepadanya, menunjukan kebenaran yang diturunkan Allah swt dalam kitab-kitab yang diurunkan dan Rasul-rasul yang diutus (Qs. an-Nal [16]: 44 dan al-Anām [8]: 50).[56]
4.      Tafakur secara total, berdua atau sendiri
Di antara ayat-ayat yang mendorong untuk bertafakur (berpikir) adalah firman Allah swt SWT dalam surat Saba’ ayat 46:
قل إنما أعظكم بواحدة أن تقوموا لله مثنى وفرادى ثم تتفكروا ما بصاحبكم من جنة إن هو إلا نذير لكم بين يدي عذاب شديد
Dalam ayat tersebut Allah swt memberi perintah kepada Rasul saw agar memberikan nasihat kepada kaumnya dan mendorong mereka untuk melakukan satu hal, tidak yang lainnya, hingga mereka akan mengetahui hakikat kenabiannya dan kepribadiannya. Dan satu hal yang dituntut itu terdiri atas dua langkah:pertama, agar mereka menghadap kepada Allah swt berdua atau sendirian. Kedua, agar mereka berpikir, artinya menggunakan pikiran mereka, tidak membuatnya beku.
5.      Al-Qur’an, objek berpikir yang sangat luas
            Imam al-Gazālī menjelaskan tentang objek pemikiran ciptaan-ciptaan Allah swt terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, yang tidak diketahui wujudnya dan ini tidak mungkin dipikirkan seperti dalam surat Yāsin [36]: 36
سبحان الذي خلق الأزواج كلها مما تنبت الأرض ومن أنفسهم ومما لا يعلمون
Kedua, yang diketahui asa dan jumlahnya namun tidak diketahui secara rinci. Dan kita baru mengetahui detailnya dengan berpikir. Bagian ini juga dibagi menjadi menjadi sesuatu yang dapat diketahui dengan penglihatan mata dan ada yang tidak dapat kita lihat dengan mata. Dan yang tidak dapat dilihat dengan mata seperti jin, malaikat setan, ‘arsy dan lain-lain. Dan fungsi pemikiran pada bagian ini agak sempit dan terbatas.
Keutamaan Tafakur
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah berderajat hasan.
Hadits itu berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir.
Karena itu, Rasulullah saw. menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Agar tujuan itu tercapai, Rasulullah saw. memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam bertafakur. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai makhluk ciptaan Allah swt. Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Alllah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.
Fadhaailut Tafakkuri (Keutamaan Tafakur)
Setidaknya ada empat keutamaan tafakur, yaitu:
1.      Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191. Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”
2.      Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Kenapa begitu? Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun. Abu Darda’ seorang sahabat yang terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia menjawab, “Tafakur.” Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan. Dengan tafakur, kita bisa melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita, mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.
3.      Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur.” Hatim menambahkan, “Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepadaNya.” Imam Syafi’i menegaskan, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.” (lihat Mau’idhatul Mu’minin)
4.      Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Ibnul Qayyim berkata, “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi, berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, ‘Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun’. Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan.” (Miftah Daris Sa’adah: 226).
Nataaijut Tafakkuri (Buah Tafakur)
1.      Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. [Ar-Ruum, 8]
2.      Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)
3.      Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba: 46)
4.      Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Al-Baqarah: 44)
5.      Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf: 109)
Dan apa saja[1130] yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya? (Al-Qashash: 60). [1130] Maksudnya: hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.
6.      Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.
Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)
7.      Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bia memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.
Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 10)
Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami? (Al-Anbiyaa’ : 67)
Dhawabithut Tafakkuri (Batasan Tafakur)
Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.
Jadi, tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.
Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:


Kedalaman ilmu
Konsentrasi pikiran
Kondiri emosional dan rasional
Faktor lingkungan
Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
Teladan dan pergaulan
Esensi sesuatu
Faktor kebiasaan






Dilarang Tafakkur Mengenai Dzat Allah Swt.
Setidaknya ada dua alasan, yaitu:
1. Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagunganNya.
Allah swt. tidak terikat ruang dan waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi Tuhanmu tidak ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat, ketika Allah datang untuk memberikan keputusan bumi akan tenang oleh cahayaNya.
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (Asy-syuuraa: 11)
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui. (Al-An’am: 103)
Ibnu Abbas berkata, “Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana kamu bisa membayangkan keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimunti oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.”
2. Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasan.
Memberlakukan hukum Sang Khalik terhadap makhluk ini adalah sikap ghulluw (berlebihan). Itulah yang terjadi di kalangan kaum Rafidhah terhadap Ali r.a. Sebaliknya, memberlakukan hukum makhluk terhadap Sang Khalik ini sikap taqshir. Perbuatan ini dilakukan oleh aliran sesat musyabihhah yang mengatakan Allah memiliki wajah yang sama dengan makhluk, kaki yang sama dengan kaki makhluk, dan seterusnya.

 III.            PENUTUP
A.     Kesimpulan

1.      Allah menyuruh manusia berpikir tentang kosmologi, bentuknya, penciptaannya, dan pengaturan peredarannya. Allah swt juga menyuruh manusia mempelajari sunatullah dalam segala bentuk ilmu pengetahuan.
2.      Menurrut kacamata Al-Qur’an orang-orang yang mengdurhakai Allah swt itu karena disebabkan “cacat intelektual”. Betapa pun mereka berpikir dan bahkan sebagian mereka ada yang turut mempunyai andil untuk mengembangkan peradaban manusia, namun selama proses berpikir tidak mengantarkan mereka ke derajat “bertaqwa” , maka selama itu pula mereka tetap berada dalam kategori orang-orang yang “tidak berpikir”.
3.      Beberapa factor terpenting yang menjadi hambatan proses berpikir dan menyebabkan kondisi stagnasi yang akhirnya menghalangi pengungkapan kebenaran; (1) berpegang pada pemikiran lampau.(2) tidak memiliki keterangan yang memadai.(3) hawa nafsu dan kecenderungan jiwa.
4.      Tafakkur merupakan komponen penting yang harus dimiliki bagi setiap orang beriman karena merupakan cerminan seorang mukmin.
file:///C:/Users/PARAZE~1/AppData/Local/Temp/preview/quiz.swf
5.      Objek tafakkur (1) alam semesta (2) berpikir tentang dimensi-dimensi maknawi (3) berpikir tentang ayat-ayat tanziliyah (wahyu) (4) Tafakkur secara total, berdua atau sendiri (5) Al-Qur’an objek berpikir yang sangat luas.







DAFTAR PUSTAKA
Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf dan Taqarrub),(Jakarta:Pustaka Atisa,1992)
A.Ilyas Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin, Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo Persada,2008)
Abi Abdillah Muhammad Bin Ahmad Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008)
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 4.
M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).
Abu> Al-Qa>sim Sulaima>n bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam  Al-Ausat, (Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4,
Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf  dan Taqarrub), (Jakarta:Pustaka Atisa,1992),
Harun Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam, (Jakarta: UI-Prees,1986),
M.Alfatih Suryadilaga,Konsep Ilmu dalam Kitab Hadis Studi Atas Kitab Al-Ka>fi Karya Al-Kulaini>,(Yogyakarta:Teras,2009),
Muhammad Utsman Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu an-Nafs, alih bahasa Addys Aldizar dan Tohirin Suparta, Cet. Ke-1 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006),
Fathurrahman Jamil, “Peranan Akal dalam Pandangan Ulama dan Mufassir”,http://duniabaca.com/peranan-akal-dalam-pandangan-ulama-dan-mufassir.html
Ending Saifudin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986),
Dr. Daud Rasyid, M.A, Islam dalam Berbagai Dimensi, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998),
Muhammad Utsman Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu
A.Ilyas Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin, Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo Persada,2008).
Abi Abdillah Muhammad Bin Ahmad Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008),
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 4 ,
M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).
Abu> Al-Qa>sim Sulaima>n bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam  Al-Ausat, (Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4,
Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf  dan Taqarrub), (Jakarta:Pustaka Atisa,1992),
A. Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997),
Yūsuf Qaraawi, al-’Aql wa al-‘Ilmu fi al-Qur’ān al-Karīm, alih bahasa Abdul Hayyi al-Kattani, dkk, Cet. Ke-1 (Kairo:Maktabah Wahbah, 1996),





[1]Yang dimaksud di sini adalah manusia. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan dalam Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4 yang artinya “ sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
[2]Lihat QS. Al Imran 191. “Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”
[3]Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf dan Taqarrub),(Jakarta:Pustaka Atisa,1992), h.169
[4]A.Ilyas Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin, Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo Persada,2008),h.155.
[5]Abi Abdillah Muhammad Bin Ahmad Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008),h,781.
[6]Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 4 , h.781-782
[7]M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).h.14.
[8]M.Quraish Shihab. h.16.
[9]Abu> Al-Qa>sim Sulaima>n bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam  Al-Ausat, (Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4, h.779.
[10]Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf  dan Taqarrub), (Jakarta:Pustaka Atisa,1992),h.170.
[11]Harun Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam, (Jakarta: UI-Prees,1986),h.49.
[12] M.Alfatih Suryadilaga,Konsep Ilmu dalam Kitab Hadis Studi Atas Kitab Al-Ka>fi Karya Al-Kulaini>,(Yogyakarta:Teras,2009),h.123.
[13] Muhammad Utsman Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu an-Nafs, alih bahasa Addys Aldizar dan Tohirin Suparta, Cet. Ke-1 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), h.135.
[14] Fathurrahman Jamil, “Peranan Akal dalam Pandangan Ulama dan Mufassir”,http://duniabaca.com/peranan-akal-dalam-pandangan-ulama-dan-mufassir.html
[15] Ending Saifudin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), h. 6.
[16]Dr. Daud Rasyid, M.A, Islam dalam Berbagai Dimensi, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 87-97.
[17] Muhammad Utsman Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu,…h. 145.
[18]A.Ilyas Ismail, Pilar-pilar Taqwa, Doktrin, Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spriritual, (Jakarta:Rajagrafindo Persada,2008),h.155.
[19]Abi Abdillah Muhammad Bin Ahmad Al-Ansari al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 4 rerj. Dubi Rosyadi (dkk), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008),h,781.
[20]Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 4 , h.781-782
[21]M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 11,(Tanggerang: Lentera Hati,2005).h.14.
[22]M.Quraish Shihab. h.16.
[23]Abu> Al-Qa>sim Sulaima>n bin Ahma>d Al-Tabra>ni>, Al-Mu’jam  Al-Ausat, (Qairo: Da>r Al-Hara>mai>n,1986), jus 6,h.250.Lihat Juga Tafsir Al-Qurtubi, Jilid 4, h.779.
[24]Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawuf  dan Taqarrub), (Jakarta:Pustaka Atisa,1992),h.170.
[25] A. Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 1068
[26] Yūsuf Qaraawi, al-’Aql wa al-‘Ilmu fi al-Qur’ān al-Karīm, alih bahasa Abdul Hayyi al-Kattani, dkk, Cet. Ke-1 (Kairo:Maktabah Wahbah, 1996), h.19.
[27] Yūsuf Qaraawi, al-’Aql wa al-‘Ilmu,h.42-43.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar